Lewati ke konten
NTHL.me

Biografi Singkat H. P. Lovecraft

Howard Phillips Lovecraft (20 Agustus 1890 - 15 Maret 1937) mengambil tradisi horor yang diwariskan para pendahulunya lalu memperbesarnya hingga manusia sendiri tak lagi menjadi ukuran kenyataan. Ia meninggal miskin dan nyaris tak dikenal, tetapi kelak menjadi salah satu nama paling berpengaruh sekaligus paling bermasalah dalam sastra horor modern. Ia lahir di Providence, Rhode Island, kota yang kelak nyaris sama pentingnya bagi imajinasinya dengan monster mana pun yang ia ciptakan. Ia anak tunggal Winfield Scott Lovecraft dan Sarah Susan Phillips Lovecraft. Ketika Howard masih kecil, ayahnya mengalami gangguan kesehatan berat, dirawat di Butler Hospital, dan meninggal pada 1898; Lovecraft pun tumbuh terutama dalam keluarga ibunya, termasuk kakeknya, Whipple Van Buren Phillips, seorang pengusaha yang saat itu masih berkecukupan.

Potret Lovecraft tahun 1934
Potret Lovecraft tahun 1934. Sumber gambar

Keadaan itu tak bertahan. Bisnis keluarga Phillips merosot, dan setelah Whipple meninggal pada 1904, Lovecraft dan ibunya harus meninggalkan rumah keluarga yang besar dan pindah ke tempat yang jauh lebih sederhana. Perubahan itu membekas kuat. Sepanjang hidup, ia terobsesi pada rumah tua, keluarga yang merosot, silsilah, kota yang membusuk, dan peradaban yang kehilangan kejayaannya. Tak semuanya bisa direduksi menjadi autobiografi, tetapi kehilangan status dan rumah masa kecilnya memberi konteks bagi nostalgia dan ketakutan terhadap perubahan yang terus muncul dalam tulisannya.

Sejak muda Lovecraft berminat besar pada astronomi, kimia, sejarah, dan sastra, tetapi kesehatannya yang tak stabil memutus pendidikan formalnya. Ia tak pernah menuntaskan sekolah menengah, apalagi masuk universitas. Sebagian besar pendidikannya berlangsung mandiri lewat membaca, menulis, dan jurnalisme amatir. Dari lingkungan itulah ia memperoleh sesuatu yang kelak lebih penting daripada gelar akademis: jaringan orang yang bersedia membaca tulisannya, memperdebatkan gagasannya, dan berkirim surat dengannya selama bertahun-tahun.

Perkembangannya sebagai penulis tak terjadi di ruang kosong. Edgar Allan Poe menjadi salah satu modelnya yang terpenting dalam hal atmosfer, kegilaan, kematian, dan membangun horor sebagai karya dengan efek terencana. Lord Dunsany membuka jalan ke fantasi mimpi dan dunia purba; Arthur Machen serta Algernon Blackwood menunjukkan bagaimana kenyataan sehari-hari dapat menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih tua dan asing. Dari Ambrose Bierce dan Robert W. Chambers, ia menerima contoh tentang dunia yang hanya terlihat lewat fragmen, nama tempat, teks terlarang, atau mitologi yang tak pernah dijelaskan tuntas. Dan dari fiksi ilmiah H. G. Wells, ia menyerap gambaran alam semesta yang acuh tak acuh, yang tak berkewajiban memedulikan manusia. Dalam esainya, Supernatural Horror in Literature, Lovecraft membaca sejarah horor sebagai pencarian jenis ketakutan yang lebih dalam daripada sekadar hantu atau pembunuhan: rasa gentar terhadap sesuatu yang berada di luar hukum dunia manusia.

Karier profesionalnya tumbuh lewat majalah-majalah pulp. Weird Tales, yang berdiri pada 1923, menjadi rumah paling terkenal bagi karyanya. Namun kedudukannya semasa hidup jauh dari reputasinya sekarang: ia dikenal di kalangan pembaca weird fiction, editor, penulis pulp, dan jurnalis amatir, tetapi tak meraih sukses komersial besar. Sebagian karyanya ditolak atau terbit dengan bayaran kecil, dan ia juga mencari nafkah lewat pekerjaan revisi serta menulis untuk orang lain. Ketika ia meninggal pada 1937, namanya masih terutama berada dalam dunia kecil majalah pulp dan penggemar sastra aneh, bukan kanon sastra Amerika.

Salah satu pekerjaan bayaran itu menautkannya pada sebuah nama besar yang tak terduga. Pada 1924, pendiri Weird Tales menugasi Lovecraft menulis sebagai penulis bayangan untuk pesulap Harry Houdini, sebuah kisah bertajuk Imprisoned with the Pharaohs (kelak dikenal sebagai Under the Pyramids) yang terbit dengan nama Houdini saja. Houdini menyukainya dan terus menawarinya pekerjaan, termasuk rencana buku pembongkar takhayul berjudul The Cancer of Superstition yang tak pernah rampung karena Houdini keburu meninggal pada 1926. Kolaborasi itu menyimpan ironi yang manis: Houdini sang skeptik berdiri di antara dua kutub berlawanan, Lovecraft sang materialis di satu sisi, dan penganjur Spiritualisme Arthur Conan Doyle, sahabat sekaligus lawan debat Houdini, di sisi lain.

Salah satu periode paling menentukan dalam hidupnya justru terjadi jauh dari Providence. Pada 1921 Lovecraft bertemu Sonia Greene lewat lingkungan jurnalisme amatir; mereka menikah pada 1924 dan ia pindah ke New York. Mula-mula kota itu menawarkan pertemanan, peluang kerja, dan pengalaman metropolitan yang baru. Namun ekonomi pasangan itu memburuk, Sonia harus bekerja jauh dari New York, dan Lovecraft kesulitan mendapat pekerjaan. Ia akhirnya tinggal sendiri di Brooklyn sebelum kembali ke Providence pada 1926.

New York juga mempertemukan sisi Lovecraft yang paling kreatif dengan salah satu sisi pribadinya yang paling buruk. Ketidaknyamanannya terhadap kota multietnis memperkuat xenofobia yang sudah lama ia miliki. The Horror at Red Hook adalah contoh paling terang: keberagaman imigran New York sendiri menjadi bagian dari bahasa ancamannya. Brown University, yang menyimpan koleksi Lovecraft besar, memperlihatkan lewat surat-suratnya bahwa gagasan tentang ras bukan sekadar komentar sesekali, melainkan berpengaruh nyata terhadap pandangan politik dan sebagian imajinasi sastranya.

Rasisme Lovecraft karena itu tak bisa dihapus sebagai sekadar “produk zamannya”. Prasangka rasial memang tersebar luas di Amerika awal abad ke-20, tetapi pandangan Lovecraft kerap diungkapkan pada tingkat ekstrem yang bahkan para pembela dan peneliti utamanya tak dapat meniadakannya. Ia menuliskan supremasi kulit putih, antisemitisme, kebencian terhadap orang kulit hitam, xenofobia, dan ketakutan terhadap percampuran ras dalam surat, puisi, esai, serta sejumlah karya fiksinya yang paling terang-terangan dalam nama rasialis yang ia berikan kepada seekor kucing dalam The Rats in the Walls.

Namun hubungan antara rasisme dan fiksinya juga perlu diperlakukan dengan hati-hati; tak setiap monster Lovecraft bisa diterjemahkan menjadi simbol rasial. Dalam beberapa karya kaitannya cukup jelas: The Horror at Red Hook dibangun dari ketakutan terhadap imigrasi, sementara The Shadow over Innsmouth memakai tema perkawinan dan keturunan campuran dengan cara yang sulit dilepaskan dari kegelisahannya soal kemurnian ras dan silsilah. Tetapi cerita seperti The Colour Out of Space atau At the Mountains of Madness juga bergerak lewat materialisme, astronomi, evolusi, geologi, dan ketakutan terhadap ketidakberartian manusia. Rasisme adalah salah satu bahan penting dalam imajinasinya, tetapi cosmic horror tak bisa dijelaskan hanya sebagai rasisme yang diberi tentakel.

Setelah kembali ke Providence pada 1926, Lovecraft memasuki periode kreatifnya yang terpenting. Pada tahun-tahun berikutnya lahir atau berkembang The Call of Cthulhu, The Colour Out of Space, The Dream-Quest of Unknown Kadath, The Case of Charles Dexter Ward, At the Mountains of Madness, The Shadow over Innsmouth, dan The Shadow Out of Time. Providence dan New England tak lagi sekadar tempat tinggal; keduanya berubah menjadi lanskap mitologis berisi Arkham, Innsmouth, Dunwich, Miskatonic University, rumah-rumah tua, keluarga yang mengalami degenerasi, dan peninggalan yang lebih tua daripada manusia. At the Mountains of Madness bahkan melanjutkan secara tak langsung novel Poe yang tak selesai, The Narrative of Arthur Gordon Pym, novel yang sama yang pernah dibuatkan sekuel oleh Jules Verne.

Di tengah karya-karya itu muncul prinsip yang kini biasa disebut kosmisisme. Horor Lovecraft tak terutama bergantung pada gagasan bahwa alam semesta dipenuhi makhluk jahat yang ingin menghancurkan manusia. Justru sebaliknya: alam semesta mungkin tak menaruh perhatian apa pun terhadap manusia. Makhluk seperti Cthulhu, peradaban Elder Things, atau entitas yang hanya disebut sepintas berasal dari skala ruang dan waktu yang membuat sejarah manusia tampak sesaat. Pengetahuan menjadi berbahaya bukan karena alam menyembunyikan rahasia demi menghukum manusia, melainkan karena mengetahui kebenaran bisa memperlihatkan betapa kecilnya tempat manusia di dalam kenyataan.

Di sinilah Lovecraft mengambil jalur berbeda dari horor sebelumnya. Poe kerap membangun ketakutan di dalam pikiran manusia; Bierce membawa manusia ke dunia yang realitasnya tak dapat dipercaya; Chambers memberi kesan bahwa di balik kenyataan ada simbol, naskah, dan mitologi lain. Lovecraft memperbesar semuanya hingga manusia sendiri tak lagi menjadi ukuran kenyataan.

Namun perkembangan itu bukan kerja Lovecraft seorang diri. Salah satu paradoks hidupnya: orang yang kerap dibayangkan sebagai pertapa ternyata menjalankan salah satu jaringan korespondensi paling luas dalam sejarah weird fiction. Brown University menyimpan ribuan halaman surat dan manuskripnya, dan proyek penyuntingan modern atas korespondensinya menghasilkan banyak jilid. Surat baginya bukan pesan singkat, ia bisa menulis panjang tentang astronomi, sejarah, politik, arsitektur, makanan, perjalanan, filsafat, dan cerita yang sedang digarap sahabatnya.

Dari jaringan itulah terbentuk apa yang kemudian disebut Lovecraft Circle, bukan organisasi resmi dengan keanggotaan tertentu, melainkan jaringan persahabatan dan korespondensi yang antara lain mencakup Clark Ashton Smith, Robert E. Howard, Frank Belknap Long, August Derleth, Donald Wandrei, dan kemudian Robert Bloch. Mereka membaca naskah satu sama lain, saling memberi komentar, menyelipkan nama teman sebagai lelucon dalam cerita, dan yang terpenting meminjam unsur dunia rekaan satu sama lain.

Karena itu, apa yang kini dikenal sebagai Cthulhu Mythos tak pernah dirancang Lovecraft sebagai ensiklopedia dunia fiksi dengan aturan pasti. Nama “Cthulhu Mythos” sendiri baru muncul setelah kematiannya dan terutama dikaitkan dengan August Derleth. Lovecraft lebih senang membiarkan nama seperti Cthulhu, Yog-Sothoth, Azathoth, Necronomicon, Arkham, atau Miskatonic muncul secara fragmentaris. Pembaca bisa mengenali pola, tetapi tak pernah diberi buku panduan resmi. Ia bahkan meminjam dengan bebas dari penulis lain: Hastur dan Yellow Sign dari Chambers muncul di dekat nama-nama ciptaannya sendiri, sementara Tsathoggua milik Clark Ashton Smith masuk ke dunianya. Dengan cara itu mitologinya tumbuh hampir seperti cerita rakyat buatan, tak dimiliki sepenuhnya oleh satu teks, tetapi terus berubah ketika berpindah dari satu penulis ke penulis berikutnya.

Hubungannya dengan Clark Ashton Smith dan Robert E. Howard sangat penting dalam jaringan itu. Ketiganya kelak sering dikelompokkan sebagai tokoh besar era Weird Tales, tetapi estetika mereka sangat berbeda: Howard membawa energi petualangan, kekerasan, dan dunia barbar; Smith membawa dekadensi, bahasa ornamental, sihir, dan peradaban yang membusuk; Lovecraft membawa materialisme kosmik dan ketakutan terhadap pengetahuan. Pertukaran surat membuat ketiga pendekatan itu saling menyentuh tanpa pernah menjadi satu “mazhab” resmi. Korespondensi Lovecraft dengan Howard dan Smith kini bahkan diterbitkan sebagai koleksi tersendiri.

Kematian Robert E. Howard pada 1936 sangat mengguncang Lovecraft, sementara kesehatannya sendiri terus merosot. Pada awal 1937 ia didiagnosis menderita kanker usus yang sudah pada tahap terminal; bahkan selama sakit ia mencatat perkembangan kondisinya dengan ketelitian hampir ilmiah. Lovecraft meninggal di Jane Brown Memorial Hospital, Providence, pada 15 Maret 1937 dalam usia empat puluh enam tahun tanpa kekayaan dan tanpa reputasi sastra luas, tetapi bukan tanpa orang yang peduli pada tulisannya.

Nisan Lovecraft beserta sebuah koin di atasnya
Nisan Lovecraft di Providence beserta sebuah koin di atasnya. Sumber gambar

Hampir segera setelah kematiannya, August Derleth dan Donald Wandrei memutuskan bahwa karya Lovecraft harus tetap tersedia. Ketika penerbit besar menolak kumpulan ceritanya, keduanya mendirikan Arkham House, yang buku pertamanya, The Outsider and Others (1939), menghimpun karya Lovecraft dalam satu jilid besar. Keputusan itu menjadi salah satu alasan penting mengapa tulisannya tak sekadar tercerai-berai dalam majalah pulp lama.

Warisan Derleth sendiri kelak menjadi kontroversial. Sebagai murid spiritual Lovecraft, ia membantu menjaga sang guru tetap dicetak dan memperluas jaringan pembacanya, tetapi juga menyusun apa yang ia sebut Cthulhu Mythos menjadi sistem yang lebih teratur daripada yang pernah dibuat Lovecraft bahkan memperkenalkan pertentangan antara kekuatan kosmik yang menyerupai kubu baik dan jahat, sesuatu yang tak cocok dengan ketidakpedulian kosmik Lovecraft. Penelitian Lovecraft modern karena itu sering memisahkan karya asli Lovecraft dari “Mythos” yang dikembangkan Derleth dan para penulis sesudahnya.

Ironisnya, sistem terbuka yang tak pernah direncanakan secara penuh itu justru membuat warisannya mudah berkembang. Penulis, pembuat permainan, ilustrator, musisi, dan sineas tak perlu mengikuti satu kanon ketat untuk menghasilkan sesuatu yang disebut “Lovecraftian”. Cthulhu bisa menjadi monster, simbol, lelucon, permainan meja, atau ikon internet, sementara konsep yang lebih dalam, pengetahuan terlarang, peradaban purba, kegilaan akibat mengetahui terlalu banyak, dan manusia sebagai bagian kecil dari kosmos terus diadaptasi dalam bentuk baru.

Perubahan reputasinya juga membawa perhitungan ulang terhadap pribadi di balik karya itu. World Fantasy Award selama puluhan tahun memakai patung kepala Lovecraft sebagai trofinya; perdebatan tentang rasismenya dan ketidaknyamanan sejumlah penerima penghargaan akhirnya mendorong perubahan desain, dan patung baru karya Vincent Villafranca mulai diberikan pada 2017. Pengaruh estetiknya memang sulit disangkal, tetapi pengaruh tak sama dengan pembebasan dari kritik generasi baru bahkan memakai perangkat cosmic horror untuk melawan asumsi penciptanya sendiri, sebagaimana dahulu Lovecraft meminjam Carcosa dan Hastur dari Chambers lalu mengubah maknanya.

Lovecraft akhirnya memperoleh sesuatu yang hampir tak pernah ia dapatkan semasa hidup: pembaca dalam jumlah sangat besar. Namun kehidupan kedua itu tak menjadikannya sosok yang lebih sederhana. Ia seorang materialis yang menulis seolah kosmos dipenuhi dewa; seorang lelaki yang sangat terikat pada masa lampau tetapi ikut menciptakan salah satu bentuk horor paling modern; seorang penyendiri yang membangun komunitas lewat ribuan surat; seorang penulis dengan prasangka mengerikan yang justru meninggalkan perangkat imajinatif yang kelak dipakai penulis dari latar yang tak pernah ia bayangkan.

Poe membuat manusia takut pada pikirannya sendiri. Bierce membuatnya ragu pada kenyataan. Chambers membuka celah menuju mitologi lain. Lovecraft memandang lewat celah itu dan menemukan sesuatu yang lebih mengerikan: mungkin tak ada pusat sama sekali, dan manusia tak pernah menjadi alasan alam semesta ada.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar