Lewati ke konten
NTHL.me

Biografi Singkat H. G. Wells

Herbert George Wells (21 September 1866 - 13 Agustus 1946) sering dikenang sebagai peramal masa depan, tetapi keistimewaannya yang sebenarnya lebih dalam: ia termasuk penulis pertama yang secara konsisten menggunakan masa depan sebagai laboratorium untuk menguji manusia, bertanya apa yang terjadi pada kita jika sebuah kemungkinan ilmiah benar-benar diwujudkan. Ia lahir di Bromley, Kent, dalam keluarga kelas menengah bawah yang keadaan ekonominya tak pernah benar-benar aman. Ayahnya, Joseph Wells, menjalankan toko kecil sekaligus berpenghasilan sebagai pemain kriket profesional, sementara ibunya, Sarah Neal, pernah menjadi pembantu rumah tangga dan kembali bekerja sebagai pengurus rumah ketika usaha keluarga memburuk. Pada 1874, Wells patah kaki dan harus berbaring lama; buku-buku yang ia baca selama pemulihan membuka dunia yang jauh lebih luas daripada Bromley dan menumbuhkan keinginannya untuk menulis.

Potret H. G. Wells tahun 1918
Potret H. G. Wells tahun 1918. Sumber gambar

Masa mudanya tak langsung mengarah ke universitas. Wells sempat menjadi murid-guru dan menjalani magang di perdagangan kain, pengalaman yang sangat dibencinya, yang kelak menyediakan bahan bagi novel-novel tentang kehidupan kelas menengah bawah seperti Kipps. Jalan keluarnya datang lewat pendidikan: pada 1884 ia meraih beasiswa ke Normal School of Science di South Kensington (kelak bagian dari Royal College of Science) dan belajar biologi di bawah Thomas Henry Huxley, salah satu pembela terpenting teori evolusi Darwin. Wells meninggalkan sekolah itu tanpa menuntaskan program awalnya, tetapi melanjutkan belajar secara mandiri dan akhirnya meraih gelar B.Sc. dari University of London pada 1890 dengan predikat kelas pertama dalam zoologi.

Pengaruh Huxley sulit dipisahkan dari fiksi Wells di kemudian hari. Baginya, evolusi bukan sekadar pengetahuan tentang fosil atau perubahan spesies, melainkan cara memandang manusia sebagai makhluk biologis yang juga bisa berubah, merosot, beradaptasi, bahkan kehilangan tempatnya. Sebelum terkenal sebagai novelis, Wells mengajar sains dan menerbitkan Text-Book of Biology pada 1893. Jadi ketika ia kemudian memasukkan teori ilmiah ke dalam sastra, ia melakukannya bukan sekadar sebagai penggemar sains, melainkan sebagai orang yang memang pernah dididik secara formal dalam ilmu pengetahuan.

Karier sastranya meledak lewat The Time Machine pada 1895. Perjalanan waktu sudah punya pendahulu dalam sastra, tetapi Wells memberinya salah satu bentuk paling berpengaruh: sebuah mesin yang dengan sengaja membawa manusia menembus waktu, sebagaimana kendaraan membawanya menembus ruang. Namun perjalanan itu bukan sekadar kesempatan menengok masa depan. Sang penjelajah waktu menemukan kaum Eloi dan Morlock, dua bentuk manusia yang bisa dibaca sebagai hasil ekstrem dari pembelahan kelas: satu kelompok hidup di permukaan dalam kenyamanan tanpa daya, sementara yang lain hidup dan bekerja di bawah tanah. Makin jauh ia bergerak ke masa depan, makin jelas pula bahwa evolusi tak punya kewajiban mempertahankan manusia, peradaban, atau bahkan kehidupan sebagaimana kita mengenalnya.

Dalam beberapa tahun berikutnya, Wells menghasilkan rangkaian karya yang kelak disebut roman ilmiah (scientific romances). The Island of Doctor Moreau (1896) memakai eksperimen atas hewan untuk mempertanyakan batas antara manusia dan binatang serta moralitas ilmu tanpa kendali. The Invisible Man (1897) mengubah sebuah penemuan luar biasa menjadi tragedi keterasingan, paranoia, dan kekuasaan. The War of the Worlds (1898) menghadirkan kekuatan asing yang jauh lebih unggul secara teknologi menyerang Inggris dan bangsa yang terbiasa hidup di pusat sebuah imperium mendadak ditempatkan pada posisi masyarakat yang tak berdaya melawan penjajahnya sendiri. Pada akhirnya, bukan keunggulan militer manusia yang mengalahkan bangsa Mars, melainkan penyakit bumi.

The First Men in the Moon (1901) sekali lagi menunjukkan perbedaan Wells dari Jules Verne. Verne berupaya membawa pembacanya ke tempat luar biasa dengan memperpanjang kemungkinan teknologi dan ilmu yang sudah dikenalnya; Wells lebih bersedia menciptakan satu kemustahilan, di sini sebuah material bernama Cavorite yang mampu meniadakan gravitasi lalu memperlakukan konsekuensinya dengan serius. Verne sendiri menolak anggapan bahwa mereka bekerja dengan metode yang sama: dalam sebuah wawancara pada 1903, ia menegaskan bahwa dirinya memakai fisika yang sudah diketahui, sementara Wells lebih bebas menciptakan hukum dan material baru.

Perbedaan itu justru membuat kedudukan keduanya dalam sejarah fiksi ilmiah saling melengkapi. Verne bertanya sejauh mana teknologi yang sedang tumbuh dapat membawa manusia; Wells bertanya apa yang terjadi pada manusia bila salah satu batas kenyataan tiba-tiba berubah. Verne banyak membangun perjalanan; Wells banyak membangun eksperimen pikiran. Keduanya menjadi dua jalur besar yang terus muncul dalam fiksi ilmiah modern dan bergema pada penulis-penulis sesudahnya, termasuk sahabat Wells sendiri, Arthur Conan Doyle, yang lewat The Lost World dan Profesor Challenger menimba dari Verne maupun Wells.

Wells tak berhenti pada perjalanan waktu, invisibilitas, atau makhluk Mars; ia juga sangat tertarik pada peperangan masa depan. Dalam cerita The Land Ironclads (1903), ia menggambarkan kendaraan tempur berlapis baja besar yang mampu bergerak melintasi medan dan menghancurkan pertahanan infanteri. Kendaraan itu bukan tank modern secara teknis, Wells memakai sistem roda pedrail, bukan rantai seperti tank kelak tetapi kemiripan konsepnya menjadi mencolok ketika tank mulai dipakai dalam Perang Dunia I pada 1916. Wells sendiri kemudian menegaskan bahwa ia tak menganggap dirinya pencipta gagasan itu; ia mengambil konsep teknologi yang sudah beredar lalu mengembangkannya secara imajinatif.

Dalam The War in the Air (1908), Wells membayangkan perang besar yang didominasi pesawat dan armada udara hingga meruntuhkan tatanan peradaban. Ia tak “meramalkan pesawat tempur” secara ajaib. Penerbangan bermesin sudah menjadi kenyataan saat novel itu ditulis tetapi ia melihat lebih cepat daripada banyak orang bahwa kemampuan terbang akan mengubah perang: dari konflik yang terutama berlangsung di permukaan menjadi ancaman yang dapat mencapai kota dan warga sipil jauh dari garis depan.

Ramalannya yang paling mengerikan muncul dalam The World Set Free (1914). Bertolak dari pembacaannya atas perkembangan fisika radioaktivitas, Wells membayangkan senjata yang ia sebut atomic bombs, bom yang melepaskan energi atom dan mengubah perang sedemikian rupa hingga negara-negara terpaksa mempertimbangkan pemerintahan dunia. Mekanisme bom Wells tak sama dengan senjata fisi nuklir yang kelak benar-benar dibuat, tetapi gagasannya punya kaitan historis yang luar biasa: fisikawan Leo Szilard membaca novel itu sebelum mengembangkan gagasan reaksi berantai nuklir, dan kemudian mengenang bahwa Wells telah membantunya memahami implikasi mengerikan energi atom.

Namun Wells bukan hanya penulis yang berusaha melihat teknologi sebelum waktunya. Setelah sukses roman-roman ilmiahnya, energinya kian beralih ke masyarakat sezaman. Kipps (1905), Tono-Bungay (1909), dan The History of Mr Polly (1910) menggambarkan kelas, pekerjaan, komersialisme, dan frustrasi kehidupan Inggris. Wells sendiri berasal dari lapisan masyarakat yang sering hanya menjadi latar dalam novel kelas atas; pengalamannya sebagai anak penjaga toko, pegawai magang, guru, dan penulis yang berjuang mencari nafkah memberinya bahan sosial yang tak perlu ia cari jauh-jauh.

Politiknya berkembang seiring tulisan itu. Wells menjadi sosialis dan bergabung dengan Fabian Society pada 1903, tetapi segera berselisih dengan tokoh seperti Sidney dan Beatrice Webb soal strategi dan organisasi gerakan: ia menginginkan gerakan yang lebih besar dan lebih agresif dalam mengubah masyarakat, sementara pimpinan Fabian lebih menyukai perubahan bertahap lewat institusi. Wells akhirnya meninggalkan organisasi itu, dan pemikirannya kian bergerak menuju gagasan bahwa nasionalisme dan persaingan antarnegara harus digantikan oleh semacam negara dunia yang ditopang pendidikan, sains, dan perencanaan rasional.

Visi itu adalah salah satu sisi Wells yang paling menarik sekaligus paling bermasalah. Ia percaya pengetahuan ilmiah dapat dipakai memperbaiki masyarakat, tetapi kepercayaannya pada perencanaan dan elit yang dianggap kompeten kadang menghasilkan gagasan yang terasa sangat teknokratis. Hubungannya dengan eugenika pun tak bisa diringkas sebagai dukungan sederhana: Wells sempat menerima sejumlah asumsi eugenika yang lazim di kalangan reformis awal abad ke-20, tetapi sikapnya berubah. Ia kemudian kian menolak determinisme biologis tentang ras, kelas, dan gender, serta berbalik melawan banyak bentuk eugenika terorganisasi. Kontradiksi itu bagian dari persoalan yang lebih besar dalam pemikirannya: bagaimana memperbaiki umat manusia tanpa memberi sekelompok orang kekuasaan untuk menentukan manusia macam apa yang layak ada.

Wells juga jauh lebih produktif daripada reputasinya sebagai penulis empat atau lima novel klasik. The Outline of History (1920) berupaya menceritakan sejarah umat manusia sebagai satu sejarah dunia, bukan kumpulan sejarah nasional. Pada akhir 1920-an ia bekerja bersama ahli biologi Julian Huxley, cucu Thomas Henry Huxley yang dahulu mengajarnya dan putranya sendiri, G. P. Wells, menghasilkan The Science of Life, sebuah upaya besar mempopulerkan biologi mutakhir. Ada lingkaran yang indah di sini: seorang murid Thomas Huxley kemudian ikut menulis karya biologi bersama cucu gurunya.

Pada 1930-an, perhatian Wells beralih ke persoalan lain: ledakan informasi. Dalam rangkaian esai yang kelak dihimpun sebagai World Brain (1938), ia mengusulkan sebuah World Encyclopaedia yang terus diperbarui, terorganisasi secara global, dan mampu menyediakan pengetahuan tepercaya secara luas kepada masyarakat. Teknologi yang ia bayangkan masih berupa dunia mikrofilm, perpustakaan, dan reproduksi dokumen pada zamannya, bukan internet, jadi terlalu jauh untuk mengatakan Wells “meramalkan Wikipedia”. Tetapi gagasan tentang sumber pengetahuan global yang terus diperbarui dan dapat diakses luas memang membuat World Brain terasa sangat akrab bagi pembaca abad ke-21.

Makin mendekati akhir hidupnya, optimisme Wells terhadap kemampuan manusia mengatur masa depan kian melemah. Ia telah melewati Perang Dunia I, lalu menyaksikan Perang Dunia II membuktikan bahwa teknologi bisa berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan politik manusia mengendalikannya. Dalam Mind at the End of Its Tether (1945), pandangannya atas kelangsungan manusia telah menjadi jauh lebih suram dibandingkan proyek-proyek utopianya dahulu. Wells meninggal di London pada 13 Agustus 1946, tak lama setelah dunia benar-benar memasuki zaman senjata atom yang selama puluhan tahun hanya ada dalam imajinasinya.

Warisan H. G. Wells karena itu tidak terutama terletak pada kemampuannya “meramal masa depan”. Sebagian ramalannya tepat, banyak yang meleset, dan sebagian besar dibangun dari perkembangan teknologi yang sudah dapat dilihat pada zamannya. Keistimewaannya adalah kemampuan bertanya apa yang akan terjadi pada manusia bila sebuah kemungkinan ilmiah benar-benar diwujudkan. Mesin waktu membawanya pada kelas dan evolusi; invisibilitas pada kekuasaan dan keterasingan; bangsa Mars pada imperialisme; energi atom pada perang dunia; ensiklopedia pada persoalan siapa yang memiliki dan menyebarkan pengetahuan. Gambaran alam semesta yang tak berkewajiban memedulikan manusia itu bahkan menjadi salah satu akar horor kosmik yang kelak dimatangkan H. P. Lovecraft.

Jules Verne membuat pembacanya ingin menaiki mesin masa depan; H. G. Wells lebih sering bertanya apa yang mungkin terjadi setelah mesin itu dinyalakan. Mungkin di situlah kedudukan Wells yang paling tepat dalam sejarah fiksi ilmiah: bukan sekadar orang yang membayangkan teknologi yang belum ada, melainkan salah satu penulis pertama yang secara konsisten menggunakan masa depan sebagai laboratorium untuk menguji manusia.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar