Lewati ke konten
NTHL.me

Penjelasan Singkat Carnian Pluvial Episode

Sekitar 234 hingga 232 juta tahun lalu, di penghujung periode Trias, Bumi mengalami salah satu perubahan iklim paling menentukan dalam sejarah kehidupan, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Carnian Pluvial Episode (CPE). Karena berlangsung kira-kira satu hingga dua juta tahun, ia kadang populer disebut “hujan dua juta tahun”. Sebutan itu tentu bukan berarti hujan turun tanpa henti di seluruh dunia, melainkan menggambarkan masa ketika iklim yang sebelumnya relatif kering berubah menjadi jauh lebih lembap dan curah hujan meningkat secara luas.

Ilustrasi hujan
Ilustrasi hujan.

Sebelum CPE, sebagian besar daratan pada Trias Akhir memiliki iklim yang cenderung kering, membentang di daratan raksasa Pangaea. Perubahan besar kemudian datang bersamaan dengan aktivitas vulkanik masif di kawasan Wrangellia, kini bagian dari pesisir barat Amerika Utara, di sekitar Kanada barat dan Alaska. Letusan itu menyemburkan basal dalam jumlah raksasa dan melepaskan karbon dioksida besar-besaran ke atmosfer, memperkuat efek rumah kaca dan menaikkan suhu Bumi beberapa derajat.

Pemanasan itu mempercepat penguapan dan mengintensifkan siklus hidrologi. Akibatnya, berbagai wilayah dari Pangaea hingga Samudra Tethys mengalami peningkatan curah hujan dan kondisi yang jauh lebih basah. Dalam skala geologis, perubahan ini bukan badai tunggal yang bertahan jutaan tahun, melainkan sistem iklim yang bergeser dan bukti batuan menunjukkan bahwa masa lembap itu sendiri berdenyut, dengan beberapa gelombang perubahan iklim yang mengikuti pulsa-pulsa letusan Wrangellia.

Dampaknya terhadap kehidupan sangat besar. Peristiwa ini kini dikaitkan dengan kepunahan yang cukup dahsyat. Diperkirakan menghapus hingga sepertiga genus laut sekaligus membuka ruang ekologis bagi kelompok-kelompok baru untuk berkembang. Di lautan, terumbu karang berkerangka yang menyerupai bentuk modern serta nanofosil berkapur mulai bermunculan; di daratan, tumbuhan runjung modern menyebar luas, sementara serangga, mamalia awal, buaya, kura-kura, dan kadal termasuk kelompok yang ikut berdiversifikasi. Dunia yang lebih basah itu, singkatnya, meruntuhkan tatanan lama sekaligus menyemai benih ekosistem yang jauh lebih modern.

Di antara semua itu, kisah dinosaurus mungkin yang paling menarik. Dinosaurus sebenarnya telah muncul jauh sebelumnya, sekitar 245 juta tahun lalu, tetapi selama puluhan juta tahun mereka tetap menjadi kelompok kecil yang tak menonjol. Barulah pada masa CPE mereka meledak dalam keragaman dan peran ekologis. Salah satu bukti terkuatnya berasal dari rekaman jejak kaki di Pegunungan Dolomit, Italia, yang memperlihatkan jejak dinosaurus muncul tepat pada waktu CPE seakan dunia yang berubah basah menjadi salah satu panggung awal bagi kebangkitan mereka.

Istilah Carnian Pluvial Episode diperkenalkan oleh ahli geologi Michael Simms dan Alastair Ruffell pada 1989, ketika mereka mengenali keserentakan antara perubahan iklim dan kepunahan pada Trias Akhir. Jejak peristiwa itu kemudian dikenali lewat perubahan khas pada lapisan batuan di berbagai belahan dunia termasuk munculnya endapan berwarna kelabu dan masuknya material klastik yang menandai pergeseran lingkungan dari kering menuju lembap. Penelitian berikutnya, terutama yang menautkan peristiwa ini dengan letusan Wrangellia, menegaskan bahwa CPE adalah fenomena global, bukan sekadar kejadian lokal.

CPE kini dipandang sebagai salah satu titik balik terpenting dalam sejarah kehidupan di Bumi. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana perubahan iklim dalam skala besar dapat sekaligus meruntuhkan ekosistem lama dan membuka jalan bagi kehidupan baru. Bagi dinosaurus khususnya, dunia yang berubah basah bukan sekadar masa krisis, ia menjadi salah satu panggung awal bagi kelompok yang kelak mendominasi daratan selama lebih dari seratus juta tahun.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar