Lewati ke konten
NTHL.me

Biografi Singkat Lewis Caroll

Charles Lutwidge Dodgson (27 Januari 1832 - 14 Januari 1898) menjalani hidupnya sebagai dua orang sekaligus. Bagi dunia, ia adalah Lewis Carroll, pengarang Alice's Adventures in Wonderland dan salah satu pencipta dunia khayal paling terkenal dalam sastra Inggris. Bagi Universitas Oxford, ia adalah Dodgson, seorang dosen matematika yang tekun menekuni geometri dan logika selama puluhan tahun. Dua nama itu bukan sekadar samaran, melainkan dua vokasi yang, pada akhirnya, digerakkan oleh satu pikiran yang sama.

Potret Caroll tahun 1863
Potret Caroll tahun 1863. Sumber gambar
Ia lahir di Daresbury, Cheshire, anak ketiga sekaligus putra sulung dari sebelas bersaudara. Ayahnya, seorang pendeta Anglikan yang kelak menjadi diakon agung, menumbuhkan rumah tangga yang lekat dengan pendidikan dan agama. Sejak kecil, kedua sisi Dodgson sudah tampak berdampingan: ia gemar matematika, menggambar, dan permainan, tetapi juga gemar menulis cerita serta membuat majalah kecil untuk menghibur saudara-saudaranya. Setelah bersekolah di Richmond dan kemudian Rugby, masa yang tidak dikenangnya dengan bahagia tetapi kemampuan akademiknya tetap menonjol, terutama dalam matematika.

Pada 1851, Dodgson masuk Christ Church, Oxford, kolese tempat ayahnya dahulu belajar. Ia lulus pada 1854 dengan pujian kelas pertama dalam matematika, dan tak lama kemudian diangkat sebagai dosen matematika, sebuah jabatan yang ia pegang selama sekitar dua puluh lima tahun. Di balik nama Lewis Carroll yang kelak mendunia, kehidupan profesional Dodgson pada dasarnya adalah kehidupan seorang akademisi: ia menekuni geometri, determinan, teori pemungutan suara, dan logika simbolik. Christ Church pun mencatat karier matematikanya sebagai bagian penting dari hidupnya, bukan sekadar sampingan seorang novelis.

Kehidupan di Christ Church juga menuntut kewajiban keagamaan. Sebagai pemegang Studentship yang kurang lebih setara dengan fellowship, ia diharapkan tidak menikah dan memasuki tahbisan Gereja Inggris. Dodgson ditahbiskan sebagai diakon pada 1861, tetapi tidak melanjutkan menjadi imam. Alasan pastinya tidak diketahui; kegagapannya kerap disebut sebagai salah satu kemungkinan, sebab ia sendiri pernah menyuarakan keraguan atas kemampuannya menjalankan tugas keagamaan. Dean Henry Liddell akhirnya membiarkannya tetap tinggal di Christ Church. Gagapnya memang mewarnai kehidupan sosialnya, tetapi tak pernah menghalanginya memiliki jaringan pertemanan yang luas.

Rasa ingin tahu sang matematikawan sempat mempertemukannya dengan Charles Babbage, perancang Difference Engine dan Analytical Engine. Pada 24 Januari 1867, Dodgson mengunjunginya di London karena penasaran pada mesin hitung ciptaan Babbage dan ingin tahu apakah ia bisa memperolehnya. Pertemuan itu tak berkembang menjadi kolaborasi, tetapi memperlihatkan ketertarikannya pada mekanisasi perhitungan yang sedang tumbuh di zamannya. Babbage sekaligus menjadi jembatan tak langsung menuju Ada Lovelace, yang jauh sebelumnya telah bekerja bersamanya dan membayangkan mesin yang kelak mampu mengolah bukan hanya angka, melainkan simbol apa pun yang dapat dinyatakan dalam aturan. Dodgson menempuh jalan yang berbeda, ia tidak merancang mesin, melainkan menjadikan logika itu sendiri sebagai objek permainan. Keduanya adalah dua cabang matematika Victoria yang bersinggungan lewat Babbage: Lovelace bertanya apa yang bisa dilakukan sebuah mesin dengan aturan, sedangkan Dodgson bertanya apa yang bisa dilakukan pikiran ketika aturan logika dimainkan sampai ke batasnya.

Di luar matematika, sejak 1856 Dodgson menekuni fotografi dimana hal itu masih pekerjaan teknis yang rumit dengan proses pelat basah. Ia menjadi fotografer potret yang terampil dan menghasilkan ratusan karya selama lebih dari dua dasawarsa: anak-anak, keluarga, akademisi, seniman, hingga tokoh terkenal seperti Alfred Tennyson. Kini fotografinya dinilai sebagai babak tersendiri dalam sejarah fotografi Victoria, bukan sekadar kegiatan sampingan pencipta Alice.

Potret keluarga Rosetti yang diambil oleh Caroll
Potret keluarga Rosetti yang diambil oleh Caroll. Sumber gambar
Pada tahun yang sama ia mulai memotret, Dodgson menjalin persahabatan dengan keluarga Henry Liddell, Dean Christ Church dan dari persahabatan dengan anak-anak Liddell itulah lahir karya yang mengubah hidupnya. Dalam sebuah perjalanan perahu pada musim panas 1862, ia mengarang kisah untuk Alice Liddell dan saudara-saudaranya tentang seorang gadis yang memasuki dunia aneh setelah mengikuti seekor kelinci. Alice memintanya menuliskan cerita itu. Kisah itu tumbuh menjadi Alice's Adventures in Wonderland, terbit dengan nama Lewis Carroll pada 1865 dengan ilustrasi John Tenniel, dan disusul Through the Looking-Glass, and What Alice Found There pada 1871.

Dunia Alice sering disebut dunia nonsense, tetapi kekacauannya jarang benar-benar tanpa aturan. Percakapan berubah menjadi persoalan definisi; identitas diperdebatkan seolah sebuah proposisi; ukuran tubuh, ruang, dan waktu berubah mengikuti aturan yang ganjil tetapi tetap berkonsekuensi. Pelajaran sekolah, puisi moral, tata krama, bahasa, pengadilan, dan otoritas orang dewasa diputar sedemikian rupa hingga keabsurdannya tersingkap. Di sinilah batas antara Dodgson sang matematikawan dan Carroll sang pengarang mengabur. Logika tidak lenyap ketika Alice memasuki Wonderland, ia bekerja terlalu keras, sampai hasilnya menjadi lucu.

Persinggungannya dengan Mark Twain menautkannya pada seorang penulis besar yang hidup sezaman dan pada sebuah kemiripan yang sulit diabaikan. Keduanya bertemu di Inggris pada 26 Juli 1879; Dodgson mencatat perjumpaan dengan Samuel Clemens dengan senang hati, sementara Twain kelak mengenangnya secara khas: Carroll, menurutnya, salah satu pria dewasa paling pendiam dan pemalu yang pernah ia temui, diam sepanjang percakapan orang lain yang berlangsung berjam-jam. Seperti Clemens yang menulis sebagai Mark Twain, Dodgson pun menjalani hidup ganda di bawah dua nama. Namun cara mereka menghadirkan absurditas berlawanan arah: Twain menariknya keluar dari perilaku manusia yang nyata lewat dialek, pembualan, kemunafikan, dan politik sedangkan Carroll membangun dunia baru dan membiarkan aturan serta logikanya sendiri melahirkan absurditas. Twain menemukan keganjilan dalam dunia yang mengaku normal; Carroll membuat dunia menjadi tidak normal agar keganjilan cara berpikir manusia lebih mudah terlihat.

Selain kedua buku Alice, Carroll menulis puisi naratif The Hunting of the Snark (1876) serta sejumlah karya matematika dan logika seperti Euclid and His Modern Rivals (1879), The Game of Logic (1886), dan Symbolic Logic (1896) di samping novel dua jilid Sylvie and Bruno (1889 dan 1893). Ia juga mengembangkan metode penyelesaian determinan yang kini dikenal sebagai kondensasi Dodgson dan menulis tentang sistem pemungutan suara. Ketertarikannya pada permainan, teka-teki, dan aturan tak pernah benar-benar terpisah dari matematikanya: pikiran yang melahirkan Mad Hatter dan Humpty Dumpty adalah pikiran yang sama yang menghabiskan puluhan tahun memikirkan geometri dan logika.

Dodgson melepaskan jabatan dosen matematikanya pada 1881, tetapi tetap menjadi bagian dari Christ Church dan terus menulis. Menjelang akhir hidupnya, ia kian sering menghabiskan waktu bersama saudara-saudaranya di Guildford. Setelah influenza yang berkembang menjadi pneumonia, Charles Lutwidge Dodgson meninggal di rumah keluarganya, The Chestnuts, pada 14 Januari 1898, kurang dari dua minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-66 dan dimakamkan di Mount Cemetery, Guildford.

Warisan Lewis Carroll bertahan justru karena kedua sisi hidupnya tak pernah benar-benar terpisah. Charles Dodgson mencari keteraturan lewat angka, geometri, dan logika; Lewis Carroll mengambil keteraturan yang sama, membengkokkannya, lalu mengubahnya menjadi Wonderland. Lewat Babbage, hidupnya bersinggungan dengan dunia matematika yang melahirkan gagasan Ada Lovelace; lewat perjumpaannya dengan Mark Twain, ia menyentuh tradisi satire di seberang Atlantik. Namun Carroll tetap menempati tempatnya sendiri. Ia membuktikan bahwa logika tak selalu menjadi lawan imajinasi, kadang, bila sebuah aturan diikuti cukup jauh, logika justru menjadi jalan tercepat menuju sesuatu yang sama anehnya dengan mimpi.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar