Lewati ke konten
NTHL.me

Biografi Singkat Alessandro Cagliostro

Alessandro Cagliostro (2 Juni 1743 - 26 Agustus 1795) adalah salah satu figur paling ganjil di Eropa abad ke-18 dan salah satu pencipta persona paling berhasil dalam sejarah. Ia tampil sebagai penyembuh, alkemis, Freemason, peramal, dan pemilik pengetahuan rahasia, memasuki lingkungan aristokrasi dari Strasbourg hingga Paris lalu berakhir sebagai tahanan Inkuisisi di sebuah benteng terpencil. Di antara kedua ujung itu, ia membangun sebuah identitas yang begitu meyakinkan sehingga nama “Cagliostro” akhirnya jauh lebih terkenal daripada nama yang diberikan kepadanya saat lahir.

Patung Cagliostro yang dipahat oleh Jean-Antoine Houdon
Patung Cagliostro yang dipahat oleh Jean-Antoine Houdon. Sumber gambar

Tokoh yang kemudian dikenal sebagai Count Alessandro di Cagliostro umumnya diidentifikasi sebagai Giuseppe Balsamo, yang lahir di kawasan Albergheria, Palermo, ketika Sisilia masih bagian dari Kerajaan Sisilia, dari keluarga berekonomi sederhana. Namun identifikasi itu sendiri harus diperlakukan dengan hati-hati karena sebagian besar biografi awalnya ditulis oleh musuh-musuhnya atau berdasarkan dokumen pengadilan yang memang bertujuan mendiskreditkannya, sehingga catatan tentang masa mudanya tak selalu dapat dipercaya sepenuhnya. Kisah-kisah kemudian menggambarkan Balsamo terlibat dalam pemalsuan, penipuan, dan pencarian harta karun palsu sebelum meninggalkan Palermo; sebagian mungkin berdasar sejarah, tetapi rinciannya bercampur dengan legenda dan propaganda yang tumbuh setelah ia terkenal.

Pada 1768 ia berada di Roma dan menikahi Lorenza Feliciani yang kelak dikenal sebagai Serafina atau Countess Cagliostro yang menghabiskan waktu bersama dengannya sepanjang pengembaraannya. Selama tahun-tahun berikutnya, pasangan itu berpindah-pindah antarkota Eropa dengan berbagai nama dan identitas, dan dari kehidupan itulah persona Count Alessandro di Cagliostro perlahan lahir. Cagliostro sendiri memberikan kisah asal-usul yang jauh lebih fantastis dimana ia menggambarkan dirinya dibesarkan di Timur dan terhubung dengan pengetahuan rahasia Mesir, Arab, serta Malta, lengkap dengan tokoh-tokoh misterius seperti seorang guru bernama Altotas yang keberadaannya tak pernah dapat dipastikan. Dalam hidupnya, batas antara pengalaman nyata dan biografi yang ia ciptakan sendiri memang hampir tak pernah jelas.

Salah satu bagian hidupnya yang dapat dibuktikan lebih kuat adalah keterlibatannya dalam Freemasonry. Pada 12 April 1777 ia diterima di sebuah gedung berbahasa Prancis bernama L’Espérance di London, penelitian modern bahkan berhasil menemukan kembali sertifikat Masonik yang berkaitan dengan inisiasinya. Dari lingkungan itu Cagliostro mengembangkan sistem esoterisnya sendiri, yang dikenal sebagai Egyptian Masonry atau Egyptian Rite. Mesir dalam ajarannya bukan rekonstruksi historis agama Mesir kuno, melainkan lambang kebijaksanaan purba yang menurutnya diwariskan lewat tradisi rahasia; sistemnya memadukan Freemasonry dengan alkimia, regenerasi spiritual, ritual penyucian, ramalan, dan gagasan penyempurnaan manusia. Salah satu cirinya yang tak biasa adalah keterlibatan perempuan: dalam sejumlah kelompok yang dibentuk atau dipengaruhinya, perempuan dapat mengikuti ritual bergaya adoption lodge, dan ketika berada di Mitau, Courland, pada 1779, ia menarik perempuan-perempuan aristokrasi setempat ke dalam kegiatan itu.

Namun kesuksesannya jarang bertahan lama. Beberapa pengagumnya berbalik menjadi pengkritik. Salah satu yang terkenal adalah bangsawati Courland, Elisa von der Recke, yang pernah tertarik pada Cagliostro sebelum menerbitkan kritik terhadapnya. Perjalanannya sepanjang Eropa berulang kali mengikuti pola yang sama: datang sebagai orang asing misterius, menarik perhatian kalangan terpandang, memperoleh pengikut, lalu meninggalkan kota setelah keraguan dan kontroversi mulai tumbuh.

Pola itu sempat terhenti di Strasbourg. Setibanya pada 1780, reputasinya sebagai penyembuh dan tokoh spiritual berkembang pesat. Ia menawarkan pengobatan dan membangun citra bahwa kemampuannya berasal dari pengetahuan alam serta rahasia kuno. Praktik itu mempertemukannya dengan salah satu tokoh terpenting dalam hidupnya, Louis René Édouard de Rohan, Kardinal dan Pangeran-Uskup Strasbourg, yang sangat tertarik pada alkimia dan esoterisme dan menjadi pelindungnya. Hubungan itu membawa sang petualang Sisilia semakin dekat dengan aristokrasi Prancis. Pada pertengahan 1780-an, Cagliostro telah berubah dari pengembara bernama banyak menjadi figur internasional yang potret dan kisahnya beredar di berbagai negara. Pematung terkemuka Jean-Antoine Houdon bahkan membuat patung potretnya. Ironisnya, hubungan dengan Rohan pula yang kemudian menyeretnya ke dalam skandal terbesar dalam hidupnya.

Pada 1785 pecahlah Affair of the Diamond Necklace, penipuan rumit yang berpusat pada kalung berisi hampir 650 berlian bernilai sekitar 1,6 juta livre yang sebelumnya ditolak Ratu Marie Antoinette. Jeanne de La Motte meyakinkan Kardinal de Rohan bahwa sang ratu diam-diam menginginkan kalung itu dan membutuhkannya sebagai perantara. Surat palsu, penyamaran, dan manipulasi lalu dipakai untuk membuat sang kardinal percaya ia bertindak atas nama Marie Antoinette. Karena kedekatannya dengan Rohan, Cagliostro ikut dicurigai, ditangkap pada Agustus 1785, dan dipenjarakan di Bastille. Kasus itu berubah menjadi tontonan publik yang luar biasa, melibatkan seorang kardinal, nama sang ratu, penipu aristokrat, pemalsu, dan seorang mistikus terkenal. Pada 31 Mei 1786, Parlement de Paris membebaskannya karena tak cukup bukti bahwa ia terlibat; Rohan pun dibebaskan. Namun pembebasan itu tak mengembalikan hidupnya. Louis XVI memerintahkannya meninggalkan Prancis, dan kasus itu membuat kehidupannya kian terbuka terhadap penyelidikan publik.

Setibanya kembali di London, muncul tuduhan terbuka bahwa Count Alessandro di Cagliostro sebenarnya adalah Giuseppe Balsamo dari Palermo. Cagliostro membantahnya dan terus mempertahankan kisah asal-usulnya sendiri, dan perselisihan tentang identitasnya menjadi bagian dari perang pamflet yang mengelilinginya. Pada 1787, Johann Wolfgang von Goethe yang sedang berkelana di Italia, tiba di Palermo dan menjadi penasaran. Ia mencari dokumen keluarga Balsamo, berbicara dengan orang setempat, bahkan bertemu ibu dan saudara perempuan Giuseppe Balsamo. Dalam Italian Journey, Goethe mencatat bagaimana masyarakat Palermo memperdebatkan apakah Balsamo dan Cagliostro benar-benar orang yang sama, sebelum penyelidikannya meyakinkannya bahwa keduanya identik. Episode itu memperlihatkan sesuatu yang unik: bahkan ketika ia masih hidup, orang-orang sudah berusaha membongkar biografinya seperti sejarawan yang mencoba memisahkan arsip dari legenda.

Setelah meninggalkan Inggris, Cagliostro kembali berkelana sebelum akhirnya menuju Roma pada 1789, sebuah pilihan yang berbahaya. Freemasonry telah lama dikecam Kepausan, sementara ia membawa reputasi sebagai pendiri sistem Masonik esoteris yang dibumbui alkimia dan ritual okultis. Pada Desember 1789 ia ditangkap Inkuisisi Romawi dan dipenjarakan di Castel Sant’Angelo. Pengadilannya bukan sekadar perkara sulap melainkan otoritas gerejawi memandang kegiatan Masoniknya sebagai ancaman agama dan sosial, dan dokumen serta pengakuan yang diperoleh selama proses itu bahkan kelak dipakai penulis-penulis anti-Masonik untuk menghubungkan Freemasonry, Illuminati, dan gagasan konspirasi revolusioner, hubungan yang berkembang jauh melampaui hidup Cagliostro sendiri. Pada 1791 ia dijatuhi hukuman mati, tetapi diringankan menjadi penjara seumur hidup, lalu dipindahkan ke benteng San Leo di pegunungan Negara Gereja. Di sana, tanpa lagi salon bangsawan, perjalanan antarkerajaan, atau istana tempat ia dapat membangun identitas baru, ia meninggal sebagai tahanan pada 26 Agustus 1795 dalam usia 52 tahun.

Setelah kematiannya, Cagliostro hampir segera berubah dari manusia menjadi karakter. Penulis, sejarawan, kaum anti-Masonik, okultis, dan novelis memakai kehidupannya untuk tujuan yang berbeda-beda. Bagi sebagian ia penipu terbesar zamannya, bagi yang lain mistikus yang dihancurkan lembaga politik dan agama. Sejarah yang lebih hati-hati menunjukkan sosok yang lebih rumit daripada kedua gambaran itu. Ia memang menciptakan identitas palsu dan membuat klaim yang tak dapat dibuktikan, tetapi ia juga benar-benar menjadi figur penting dalam jaringan esoteris Eropa, benar-benar berhubungan dengan aristokrasi, dan benar-benar mengembangkan sistem Masoniknya sendiri yang cukup berpengaruh sehingga pemerintah, pers, dan lawan-lawannya menganggapnya layak diperhatikan.

Cagliostro hidup pada Zaman Pencerahan, ketika rasionalitas dan kritik terhadap tradisi lama sedang berkembang. Tetapi abad yang sama juga dipenuhi Freemasonry, alkimia, magnetisme, perkumpulan rahasia, dan pencarian kebijaksanaan purba dan hidupnya menunjukkan bahwa kedua dunia itu tak selalu saling meniadakan. Pertanyaan apakah ia mistikus sejati atau penipu pada akhirnya terlalu sederhana. Secara historis, ia seorang pencipta persona yang sangat berhasil. Yang lebih penting, ia adalah prototipe sebuah pola yang akan terus muncul. Sang magus pengembara, pembawa kebijaksanaan purba dan ritual rahasia, yang kelak direprisekan dalam nada yang sangat berbeda oleh figur-figur seperti Helena Blavatsky dan Aleister Crowley. Titik-titik awal dari sebuah garis panjang yang, satu setengah abad kemudian, bermuara pada usaha memahami jiwa manusia bukan lagi lewat sihir, melainkan lewat psikologi.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar