Biografi Singkat Aleister Crowley
Isi Tulisan
Aleister Crowley (12 Oktober 1875 - 1 Desember 1947) adalah salah satu tokoh okultisme paling berpengaruh sekaligus paling kontroversial pada abad ke-20. Lahir dengan nama Edward Alexander Crowley di Royal Leamington Spa, Inggris, ia tumbuh dalam keluarga berada yang menjadi anggota Plymouth Brethren, sebuah gerakan Kristen yang di lingkungan keluarganya dijalankan sangat ketat. Kelak Crowley justru membangun hampir seluruh identitas publiknya sebagai pemberontakan terhadap dunia religius tempat ia dibesarkan.
![]() |
| Potret Aleister Crowley tahun 1913. Sumber gambar |
Ayah Crowley meninggal pada 1887, dan sesudah itu hubungannya dengan agama keluarganya kian memburuk. Ibunya bahkan pernah menghubungkannya dengan istilah “Beast” dari Kitab Wahyu, sebuah citra yang justru diambil Crowley sendiri dan berkembang menjadi salah satu personanya yang paling terkenal, The Great Beast 666. Ia kemudian belajar di Trinity College, Cambridge, tetapi meninggalkan universitas tanpa gelar. Di sana minatnya melampaui pendidikan formal. Ia menulis puisi, bermain catur, menekuni tradisi esoteris, dan serius mendaki gunung. Pada masa mudanya ia bahkan menjadi pendaki cukup berpengalaman, ikut ekspedisi awal menuju K2 pada 1902 dan ekspedisi Kanchenjunga pada 1905, meski gagal mencapai puncak, kedua pendakian tersebut memperlihatkan sisi Crowley yang sering tenggelam di balik reputasinya sebagai okultis.
Pada 1898 Crowley bergabung dengan Hermetic Order of the Golden Dawn, salah satu organisasi esoteris paling berpengaruh pada akhir zaman Victoria, tempat ia mempelajari ritual magis, Qabalah, simbolisme, dan berbagai tradisi esoteris Barat di bawah tokoh seperti Samuel Liddell MacGregor Mathers. Golden Dawn kemudian mengalami konflik internal, dan hubungan Crowley dengan Mathers akhirnya memburuk. Setelah berpisah, Crowley mengembangkan sistemnya sendiri dengan memadukan tradisi magis Barat dengan yoga, meditasi, mistisisme Timur, dan berbagai praktik yang ia temui dalam perjalanannya. Ia memakai ejaan magick bukan sekadar magic untuk menyebut praktik spiritual dan ritualnya. Bukan sulap panggung, melainkan suatu metode untuk menghasilkan perubahan sesuai kehendak dan mengembangkan diri lewat latihan spiritual. Pada 1907 ia juga mendirikan A∴A∴ (Argenteum Astrum or Silver Star), sebuah sistem pengajaran dan inisiasi esoteris yang kelak menjadi salah satu kendaraan utama penyebaran ajarannya.
Titik terpenting dalam kehidupan spiritualnya terjadi di Kairo pada 1904. Menurut pengakuannya, ketika berada di Mesir bersama istrinya, Rose Edith Kelly, ia menerima pesan dari suatu kecerdasan nonmanusia yang menyebut dirinya Aiwass. Selama tiga hari, 8–10 April, ia menuliskannya menjadi Liber AL vel Legis, lebih dikenal sebagai The Book of the Law. Teks itu menjadi dasar agama dan filsafat esoteris yang disebut Thelema, dan salah satu kalimatnya yang paling terkenal berbunyi, “Do what thou wilt shall be the whole of the Law.” Kalimat itu dapat diterjemahkan longgar sebagai “Lakukan apa yang menjadi kehendakmu, itulah seluruh Hukum” tetapi dalam Thelema, Will tak sekadar berarti menuruti keinginan sesaat. Konsep pentingnya adalah True Will atau “Kehendak Sejati”: arah mendasar yang dianggap menjadi jalan khas setiap individu. Prinsip itu dilengkapi ungkapan lain, “Love is the law, love under will,” sehingga kebebasan dalam Thelema bukan dimaksudkan sebagai hidup tanpa batas, melainkan sebagai usaha menemukan kehendak terdalam seseorang dan menyelaraskan hidup dengannya.
Crowley kemudian terlibat dengan Ordo Templi Orientis (O.T.O.), organisasi esoteris yang telah berdiri sebelum dirinya, jadi ia bukan pendiri O.T.O. Namun ia sangat memengaruhi arah organisasi itu dan memasukkan Thelema semakin dalam ke dalam sistemnya. Setelah konflik mengenai suksesi kepemimpinan, ia menjadi Outer Head of the Order pada awal 1920-an dan memegang posisi itu hingga wafat. Lewat A∴A∴, O.T.O., tulisan-tulisannya, serta jurnal The Equinox, Crowley berusaha membentuk sebuah sistem yang mencampurkan ritual magis Barat, meditasi, yoga, Qabalah, simbolisme Mesir, dan praktik seksual sebagai bagian dari disiplin esoteris, campuran yang membuat pemikirannya berbeda sekaligus kontroversial dibandingkan banyak organisasi okultis sebelumnya.
Pada 1920 Crowley bersama sejumlah pengikutnya mendirikan komunitas bernama Abbey of Thelema di Cefalù, Sisilia. Namanya terinspirasi biara imajiner dalam karya François Rabelais yang dimaksudkan sebagai tempat para pengikut Thelema menjalani latihan spiritual dan kehidupan bersama. Kehidupan di Cefalù kemudian menjadi bahan pemberitaan sensasional pers Inggris. Cerita tentang seks, narkotika, ritual, dan kematian salah seorang penghuninya kian memperkuat citranya sebagai sosok berbahaya, dan majalah John Bull bahkan menjulukinya “the wickedest man in the world”. Pada 1923, pemerintah Italia di bawah rezim Mussolini memerintahkannya meninggalkan negara itu, dan eksperimen Abbey of Thelema pun berakhir. Crowley sendiri bukan korban pasif dari reputasi itu. Ia gemar membangun persona provokatif, memakai gelar seperti The Great Beast 666, menentang moralitas sosial zamannya, dan sengaja bermain dengan simbol yang dapat membuat masyarakat Kristen Inggris bereaksi keras sehingga batas antara Crowley sebagai manusia, sebagai tokoh media, dan sebagai karakter yang ia ciptakan sendiri menjadi kian sulit dipisahkan.
Kekayaan warisan yang dahulu memungkinkannya hidup dan bepergian bebas telah banyak terkuras ketika ia memasuki usia pertengahan, dan pada tahun-tahun berikutnya ia kian bergantung pada penerbitan karya serta bantuan para pengikutnya. Ia juga mengalami ketergantungan kronis terhadap heroin, obat yang awalnya pernah dipakai dalam penanganan masalah kesehatannya. Pada akhir hidupnya Crowley tinggal di Netherwood, sebuah rumah penginapan di Hastings, dan meninggal pada 1 Desember 1947 dalam usia 72 tahun. Catatan biografis menyebut bronkitis dan gangguan jantung sebagai penyebabnya.
Reputasi Crowley semasa hidup sering lebih besar daripada jumlah pengikut langsungnya, tetapi setelah kematiannya pengaruh gagasannya justru kian meluas. Para akademisi menempatkannya sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan esoterisme Barat modern, dan pemikirannya muncul kembali dalam budaya tandingan 1960-an dan 1970-an serta berbagai tradisi spiritual alternatif. Pengaruhnya terhadap Wicca adalah salah satu contoh penting. Gerald Gardner, tokoh utama pembentukan Wicca modern, mengenal Crowley dan memakai cukup banyak materi dari tradisinya pada tahap awal perkembangan ritualnya meskipun Wicca bukan cabang langsung Thelema dan tak dapat disebut ciptaan Crowley, sebab pengaruh itu bercampur dengan banyak sumber lain dan sebagian unsurnya bahkan dikurangi oleh generasi Wiccan berikutnya.
Crowley akhirnya menjadi tokoh yang jauh lebih besar setelah kematiannya daripada ketika masih hidup. Ia dapat dibaca sebagai mistikus, penulis, eksperimentator spiritual, provokator, atau seseorang dengan ego yang luar biasa besar dan mungkin semuanya sekaligus. Sebagian klaim supernaturalnya tak dapat diverifikasi secara historis, tetapi pengaruh budaya dan intelektualnya dapat ditelusuri jauh lebih jelas. Ironisnya, seorang pria yang menghabiskan hidup menentang agama masa kecilnya justru membangun sistem kepercayaannya sendiri, lengkap dengan kitab, ritual, simbol, murid, dan penerus. Dalam banyak hal ia adalah pewaris abad ke-20 dari tipe yang jauh lebih tua, sang magus pengembara yang memikul simbolisme Mesir dan kebijaksanaan rahasia, garis yang membentang mundur hingga figur seperti Alessandro Cagliostro dan Golden Dawn yang membesarkannya sendiri tumbuh dari kebangkitan esoteris Barat yang, tak lama sebelumnya, telah dinyalakan oleh Teosofi Helena Blavatsky.

Komentar
Posting Komentar