adalah genus tumbuhan purba yang menjadi salah satu penghuni paling khas hutan rawa pada Periode Karbon, sekitar 359-299 juta tahun lalu. Namanya berasal dari bahasa Yunani lepis, “sisik”, dan dendron, “pohon”, mengacu pada pola berbentuk sisik atau berlian yang memenuhi permukaan batangnya. Namun menyebut Lepidodendron sebagai “pohon” sebenarnya sedikit menipu.
Ia bukan kerabat dekat pohon modern seperti ek, pinus, atau pohon berbunga. Lepidodendron termasuk kelompok
lycophyte, salah satu garis evolusi tumbuhan berpembuluh tertua yang masih mempunyai kerabat hidup dalam bentuk tumbuhan kecil seperti
clubmoss dan
quillwort. Pada zaman Karbon, kelompok ini melakukan sesuatu yang hampir tidak terlihat lagi sekarang. Mereka berkembang menjadi raksasa setinggi gedung bertingkat.
Beberapa spesies Lepidodendron diperkirakan dapat mencapai tinggi sekitar 40 hingga 45 meter, dengan batang berdiameter hingga sekitar 2 meter. Bentuknya berbeda dari kebanyakan pohon modern. Selama sebagian besar kehidupannya, tumbuhan ini dapat tumbuh sebagai batang tinggi yang relatif lurus dan hampir tidak bercabang. Percabangan besar terutama berkembang di bagian atas ketika tumbuhan mencapai tahap dewasa, membentuk mahkota yang bercabang berulang kali.
Batang mudanya tertutup rapat oleh daun-daun sempit yang disebut mikrofil. Ketika daun tersebut gugur, bagian pangkalnya meninggalkan pola belah ketupat yang khas pada permukaan batang. Bekas daun inilah yang menghasilkan penampilan seperti kulit reptil atau sisik dan membuat fosil batang Lepidodendron sangat mudah dikenali.
Dengan kata lain, “sisik” pada pohon sisik bukan kulit kayu yang tersusun seperti sisik, melainkan jejak ribuan daun yang pernah tumbuh langsung dari permukaan batangnya.
Struktur tubuhnya juga berbeda dari pohon modern. Sebagian besar diameter batang Lepidodendron tidak dibangun oleh kayu tebal seperti pada pohon berkayu masa kini. Jaringan luarnya memainkan peranan besar dalam menopang tubuh, dan bagian batang kemungkinan tetap berfotosintesis ketika masih muda. Karena itu, hutan yang dipenuhi Lepidodendron mungkin terlihat asing. Tiang-tiang hijau tinggi dengan pola geometris memenuhi rawa, sementara mahkota hanya terbentuk jauh di atas permukaan tanah.
 |
| Ilustrasi hutan Lepidodendron karya seniman BizleyArt. Sumber gambar |
Di bawah tanah terdapat sistem organ penambat yang sama anehnya. Fosilnya secara tradisional diberi nama
Stigmaria karena dahulu ditemukan terpisah dan dianggap sebagai jenis tumbuhan lain. Struktur tersebut menyebar secara horizontal dari pangkal batang dan menghasilkan banyak cabang kecil yang membantu menambatkan tumbuhan pada tanah rawa yang lunak.
Kasus Stigmaria memperlihatkan salah satu kerumitan paleobotani. Fosil batang, daun, akar, dan organ reproduksi suatu tumbuhan sering kali ditemukan terpisah dan pada awalnya memperoleh nama ilmiah masing-masing. Baru setelah hubungan anatominya diketahui, para peneliti dapat merekonstruksi bagaimana keseluruhan tumbuhan tersebut sebenarnya terlihat.
Raksasa yang Tidak Pernah Menghasilkan Biji
Lepidodendron hidup jauh sebelum tumbuhan berbunga mendominasi dunia. Ia tidak menghasilkan bunga atau buah, bahkan tidak berkembang biak menggunakan biji seperti kebanyakan pohon yang kita kenal. Reproduksinya dilakukan menggunakan spora.
Organ penghasil spora tersusun dalam struktur menyerupai kerucut atau strobilus yang berkembang pada cabang-cabang bagian atas. Beberapa lycophyte raksasa Karbon menghasilkan dua jenis spora berbeda yang kemudian berkembang menjadi struktur reproduktif jantan dan betina.
Pada sejumlah spesies, para paleobotanis bahkan menduga bahwa tumbuhan tersebut mungkin hanya bereproduksi sekali setelah mencapai kematangan, kemudian mati, strategi yang dikenal sebagai semelparitas. Gagasan bahwa sebagian Lepidodendron dapat mencapai ukuran raksasa dengan sangat cepat juga pernah diajukan, tetapi laju pertumbuhan dan umur persis tumbuhan ini masih menjadi bahan perdebatan.
Hutan Rawa Karbon
Masa kejayaan Lepidodendron terutama terjadi di hutan-hutan rawa tropis Karbon, khususnya selama Pennsylvanian atau Karbon Akhir.
Pada masa itu sebagian besar wilayah yang sekarang menjadi Eropa dan Amerika Utara berada dekat khatulistiwa. Dataran rendah yang hangat dan basah dipenuhi rawa luas dengan permukaan air tinggi. Bersama lycophyte raksasa lainnya, Lepidodendron membentuk tegakan padat bersama tumbuhan seperti Sigillaria, Calamites, paku-pakuan pohon, dan berbagai tumbuhan berbiji awal.
Hutan tersebut tidak benar-benar menyerupai hutan hujan modern. Sebagian Lepidodendron muda berbentuk seperti tiang tinggi tanpa mahkota lebar sehingga kanopinya dapat jauh lebih terbuka. Di bawahnya terdapat rawa, lumpur, tumbuhan rendah, dan jaringan akar Stigmaria. Ini juga merupakan dunia sebelum dinosaurus.
Lepidodendron mencapai masa kejayaannya lebih dari 60 juta tahun sebelum dinosaurus pertama muncul. Hewan yang hidup di antara hutan tersebut justru mencakup amfibi awal, berbagai tetrapoda primitif, serta arthropoda berukuran luar biasa besar. Dunia Karbon terkenal antara lain karena Arthropleura, kerabat kaki seribu yang dapat tumbuh lebih panjang daripada manusia, dan serangga terbang raksasa seperti Meganeura.
Dari Hutan Menjadi Batubara
Hubungan Lepidodendron dengan batubara memang nyata, tetapi sedikit lebih rumit daripada ungkapan bahwa “pohon-pohon ini berubah menjadi batubara”.
Dalam rawa Karbon, sejumlah besar tumbuhan mati dan jatuh ke lingkungan yang tergenang air. Kondisi miskin oksigen memperlambat pembusukan sehingga material tumbuhan terus menumpuk menjadi gambut. Setelah terkubur oleh sedimen dan mengalami tekanan serta panas selama jutaan tahun, gambut tersebut perlahan berubah menjadi lapisan batubara.
Lycophyte raksasa memang merupakan penyumbang biomassa yang sangat penting. Dalam beberapa hutan rawa Westphalian di Euramerica, anggota Lepidodendrales diperkirakan menghasilkan hingga sekitar 70 persen biomassa tumbuhan. Namun angka tersebut tidak berlaku untuk seluruh batubara di dunia maupun seluruh Periode Karbon. Komposisi vegetasi rawa berubah dari waktu ke waktu dan batubara juga terbentuk pada periode geologi lain dari kelompok tumbuhan yang berbeda.
Jadi sebagian batu bara yang ditambang manusia sekarang memang menyimpan karbon dari dunia tempat kerabat Lepidodendron pernah berdiri, tetapi bukan berarti setiap bongkah batu bara merupakan satu batang pohon yang sekadar “membatu”. Ia merupakan sisa sebuah ekosistem utuh yang dipadatkan oleh waktu geologis.
Ketika Rawa Menghilang
Kejayaan hutan lycophyte tidak berlangsung selamanya. Sekitar 307 juta tahun lalu, ekosistem hutan rawa tropis Euramerica mulai mengalami perubahan besar. Iklim menjadi semakin kering dan pola basah-kering semakin kuat. Hutan rawa yang sebelumnya sangat luas terfragmentasi, sementara kelompok tumbuhan yang lebih mampu bertahan dalam kondisi relatif kering mulai memperoleh keuntungan.
Peristiwa ini sering dibicarakan sebagai Carboniferous Rainforest Collapse, meskipun perubahan vegetasinya tidak terjadi sebagai satu kehancuran serentak di seluruh dunia. Catatan fosil menunjukkan penurunan besar lepidodendrid di Euramerica terjadi secara bertahap dan berbeda-beda menurut wilayah.
Menjelang akhir Karbon, lycophyte berbentuk pohon telah kehilangan sebagian besar dominasi mereka di Eropa dan Amerika Utara dan hutan mulai lebih banyak ditempati paku pohon serta tumbuhan berbiji. Penyebabnya kemungkinan merupakan gabungan perubahan iklim, berkurangnya habitat rawa, dan perubahan geologi yang memengaruhi bentang alam.
Namun mengatakan bahwa seluruh kelompok langsung punah tepat pada akhir Karbon juga terlalu sederhana. Beberapa lycophyte arboresen masih bertahan hingga Periode Permian, terutama di wilayah Cathaysia yang kini menjadi bagian Asia.
Pada akhirnya, dunia yang memungkinkan tumbuhan seperti Lepidodendron menjadi penguasa hutan telah menghilang. Kerabat lycophyte masih bertahan hingga sekarang, tetapi bukan lagi sebagai tiang setinggi puluhan meter. Mereka hadir sebagai clubmoss, Selaginella, dan Isoetes yang jauh lebih kecil seakan bentuk raksasa kelompok tersebut hanya menjadi eksperimen evolusi yang berlangsung pada satu bab tertentu dalam sejarah Bumi.
“Jika Anda Melihat Pohon Ini…”
Ratusan juta tahun setelah kepunahannya, Lepidodendron memperoleh kehidupan kedua yang agak aneh di internet. Foto rekonstruksi tumbuhan ini mulai digunakan dalam meme, distressing memes, dan konten bernuansa analog horror. Salah satu variasinya memperingatkan kurang lebih:
“If you see this tree, stay calm. You may have fallen through a rip in time.”
Variasi lain mengubahnya menjadi ancaman yang lebih sederhana: "Jika melihat pohon tersebut di luar rumah, hari Anda sudah berakhir". Lelucon itu bekerja karena Lepidodendron sendiri sebenarnya tidak berbahaya. Ia bukan tumbuhan karnivora, beracun luar biasa, ataupun monster yang sedang menunggu mangsa. Yang menakutkan adalah implikasi keberadaannya.
 |
| Contoh meme dari Lepidodendron. |
Jika sebuah Lepidodendron asli setinggi puluhan meter tiba-tiba berdiri hidup di depan Anda, ada beberapa kemungkinan dan hampir semuanya buruk. Entah paleobotani modern salah secara spektakuler, tumbuhan berusia lebih dari 300 juta tahun mendadak kembali hidup, atau justru Anda bukan lagi berada pada abad ke-21.
Meme tersebut sering dipadukan dengan estetika Backrooms dan analog horror. Gambar buram, instruksi untuk tetap tenang, serta gagasan bahwa sesuatu yang terlihat hampir normal sebenarnya merupakan bukti bahwa realitas telah bergeser. Tren serupa sudah muncul dalam komunitas meme horor internet sejak setidaknya awal 2020-an dan kemudian berkembang menjadi berbagai variasi di media sosial.
Tentu ada satu kekeliruan populer dalam beberapa versinya. Jika Anda benar-benar terlempar ke masa kejayaan Lepidodendron, dinosaurus tidak akan mengejar Anda. Dinosaurus belum ada. Anda justru berada di dunia rawa Paleozoikum yang asing, puluhan juta tahun sebelum dinosaurus pertama berevolusi dan lebih mungkin dikejar capung raksasa.
Lepidodendron bukan sekadar pohon yang telah punah. Bentuknya berasal dari sebuah dunia ketika hutan dibangun oleh kelompok tumbuhan yang kini hanya bertahan sebagai tumbuhan kecil, daratan dipenuhi rawa luas, dan sebagian karbon yang mereka serap masih kita bakar sebagai batubara ratusan juta tahun kemudian. Karena itu lelucon internet tentang pohon ini secara tidak sengaja menangkap sesuatu yang nyata.
Jika suatu hari Anda melihat Lepidodendron hidup berdiri di pinggir jalan, Anda memang tidak perlu takut kepada pohonnya. Anda perlu mulai bertanya tahun berapa sekarang.
Sumber Artikel
Komentar
Posting Komentar