Lewati ke konten
NTHL.me

Penjelasan Singkat Flabby Whalefish

Flabby Whalefish atau Ikan Paus Lembek adalah nama umum bagi ikan laut dalam dari famili Cetomimidae, kelompok ikan kecil penghuni zona batial di samudera. Sebagian besar bentuk dewasanya hidup sekitar 1.000-4.000 meter di bawah permukaan, wilayah yang tidak pernah menerima cahaya matahari dan hanya memiliki sedikit makanan. Meskipun disebut whalefish, ikan ini tentu tidak berkerabat dekat dengan paus. Nama tersebut berasal dari bentuk betina dewasanya yang memiliki kepala besar dan mulut lebar sehingga secara samar mengingatkan para pada penelitian awal yang menyebut tubuh paus.
Ilustrasi Cetomimus gillii betina
Ilustrasi Cetomimus gillii betina. Sumber gambar
Sebagian besar spesiesnya bahkan tidak mencapai panjang 20 sentimeter. Betina terbesar dapat tumbuh hingga sekitar 40 sentimeter, sementara jantan pada beberapa spesies hanya beberapa sentimeter panjangnya. Bentuk tubuhnya lunak, tidak mempunyai sisik luar seperti kebanyakan ikan, matanya sangat kecil, sirip perut tidak ada pada betina dewasa, dan sirip punggung serta sirip anal terletak jauh di belakang tubuh.

Di kedalaman tersebut, penglihatan hampir tidak berguna. Sebagai gantinya, betina dewasa memiliki sistem lateral line atau gurat sisi yang sangat berkembang. Saluran dan pori-pori sensorik di sepanjang kepala serta tubuh memungkinkan ikan merasakan perubahan tekanan dan getaran air yang ditimbulkan oleh hewan di sekitarnya. Dengan demikian, dunia yang bagi manusia tampak sepenuhnya gelap masih dapat “dirasakan” melalui gerakan air.

Banyak betina hidup berwarna merah, jingga kecokelatan, atau sangat gelap. Warna merah mungkin terlihat mencolok ketika dibawa ke permukaan, tetapi cahaya merah telah terserap jauh sebelum mencapai habitatnya. Di laut dalam tubuh merah praktis tampak hitam, sehingga justru berfungsi sebagai kamuflase.
Flabby Whalefish yang berwarna kemerahan
Flabby Whalefish yang berwarna kemerahan. Sumber gambar
Namun keanehan terbesar Cetomimidae bukanlah warna, mulut, ataupun kedalaman hidupnya. Keanehan sebenarnya adalah bahwa selama lebih dari setengah abad, para ahli ikan bahkan tidak menyadari seperti apa seluruh siklus hidupnya.

Tiga Famili yang Tidak Cocok Satu Sama Lain

Cetomimidae pertama kali dideskripsikan sebagai famili pada 1895. Ratusan spesimen kemudian terkumpul dari perairan dalam. Anehnya, semua individu dewasa yang diketahui ternyata betina, dan tidak pernah ditemukan larvanya di antara ratusan spesimen yang hidup di bawah 1.000 meter.

Kemudian pada 1956, ilmuwan mendeskripsikan kelompok ikan kecil yang sangat berbeda dan menempatkannya dalam famili Mirapinnidae. Bentuk yang kemudian populer sebagai tapetail memiliki tubuh kecil, mulut mengarah ke atas, sirip perut, dan pada beberapa bentuk sebuah pita panjang yang tumbuh dari sirip ekornya. Streamer tersebut dapat mencapai berkali-kali panjang tubuh ikan. Semua spesimen yang ditemukan ternyata masih muda dan hampir semuanya berasal dari lapisan atas laut, terutama kurang dari sekitar 200 meter.

Ada keanehan lain. Dari sekitar 120 spesimen Mirapinnidae yang diketahui ketika penelitian 2009 dilakukan, semuanya belum matang secara seksual. Tidak ada yang pernah menemukan versi dewasanya.

Sepuluh tahun kemudian, pada 1966, muncul keluarga misterius ketiga. Megalomycteridae, atau bignose fishes (Ikan Hidung Besar). Mereka jauh lebih kecil daripada whalefish betina, memiliki organ penciuman besar pada bagian depan kepala, mulut kecil dengan rahang atas yang hampir tidak dapat bergerak, dan kebanyakan ditemukan di laut dalam.
Masalahnya berkebalikan dengan whalefish. Semua bignose fish yang diperiksa ternyata jantan.
Dengan demikian, ahli ikan menghadapi tiga misteri sekaligus. Cetomimidae memiliki betina tetapi tidak pernah ditemukan jantannya. Megalomycteridae hanya memiliki jantan dan tidak diketahui betinanya. Mirapinnidae hanya diketahui sebagai larva dan juvenil tanpa orang dewasa.

Jawabannya baru menjadi jelas ketika para ilmuwan menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang melihat hewan yang sama pada tiga tahap kehidupan yang begitu berbeda sehingga selama puluhan tahun dimasukkan ke dalam tiga keluarga tersendiri.
Tiga siklus dan jenis kelamin Whalefish yang dulu dianggap berbeda
Tiga siklus dan jenis kelamin Whalefish yang dulu dianggap berbeda.

DNA Memecahkan Misterinya

Kecurigaan sebenarnya sudah muncul lebih awal. Pada 1971, ahli ikan William Gosline mengusulkan bahwa bignose fish mungkin merupakan jantan Cetomimidae. Kemudian pada 2003, analisis DNA mitokondria terhadap seekor Mirapinnidae menemukan genom yang hampir identik dengan seekor whalefish. Hanya tujuh perbedaan dari sekitar 16.500 pasangan basa yang dibandingkan.

Hasil itu begitu aneh sehingga bahkan beberapa peneliti awalnya meragukannya.

Bukti penentu datang ketika spesimen-spesimen dalam proses metamorfosis ditemukan. Salah satunya adalah holotipe Megalomycter teevani. Ketika diperiksa kembali, ikan tersebut ternyata masih memiliki sisa tiga jari-jari sirip perut, usus yang penuh copepod (makanan), serta organ penciuman yang sedang berkembang. Kombinasi ciri larva tapetail dan bignose dewasa.

Kemudian ditemukan pula individu Parataeniophorus gulosus yang sedang mengalami perubahan serupa serta seekor Cetostoma regani yang sedang bertransformasi menjadi betina.

Pada 2009, G. David Johnson, John R. Paxton, Tracey Sutton dan rekan-rekannya menggabungkan anatomi dengan analisis DNA mitokondria. Hasilnya mengakhiri misteri tersebut. Mirapinnidae adalah bentuk larva, Megalomycteridae adalah jantan dewasa, sedangkan Cetomimidae yang selama ini dikenal merupakan betina dewasa.

Ketiga famili lama akhirnya disatukan di bawah nama Cetomimidae, karena nama tersebut merupakan nama famili yang lebih dahulu ditetapkan.

Ini tidak berarti seluruh ikan tersebut merupakan satu spesies. Cetomimidae tetap terdiri atas banyak genus dan spesies, termasuk Cetomimus, Gyrinomimus, Cetostoma, Procetichthys, dan lainnya. Yang ditemukan pada 2009 adalah bahwa tiga kelompok yang dianggap sebagai famili terpisah sebenarnya merupakan bentuk kehidupan berbeda dari garis evolusi yang sama.

Bahkan memasangkan larva, jantan, dan betina untuk setiap spesies masih menjadi pekerjaan taksonomi yang belum sepenuhnya selesai.

Tapetail: Masa Kecil di Dunia yang Berbeda

Perjalanan hidup Cetomimidae dimulai jauh dari tempat orang dewasanya hidup.

Larva dan juvenil hidup terutama di sekitar 200 meter teratas samudra, wilayah yang jauh lebih kaya makanan dibandingkan zona batial. Pada tahap ini mereka memiliki mata yang relatif berkembang, mulut kecil yang mengarah ke atas, dan memakan kopepoda dalam jumlah besar.

Beberapa juvenil memiliki struktur paling aneh dalam seluruh siklus hidupnya. Sirip tambahan panjang yang tumbuh dari sirip ekor.

Pada Eutaeniophorus festivus, sebuah spesimen dengan panjang standar hanya sekitar 56 milimeter pernah difoto dengan panjang keseluruhan kira-kira 816 milimeter akibat streamernya. Pada beberapa tapetail, pita tersebut dapat mencapai sekitar sembilan kali panjang tubuh. Bentuk milik Parataeniophorus brevis bahkan memiliki ornamen yang mengingatkan peneliti pada siphonophore, hewan kolonial transparan yang mengapung di laut terbuka.

Fungsinya masih belum diketahui. Ia mungkin berkaitan dengan perlindungan dari predator, membantu memperoleh makanan, atau menjalankan fungsi lain yang belum pernah diamati secara langsung. Anggapan bahwa sirip tambahan pasti berfungsi sebagai umpan pengecoh predator masih merupakan spekulasi.

Ketika mencapai ukuran tertentu, larva meninggalkan bentuk tersebut dan menjalani metamorfosis yang luar biasa. Dan pada titik inilah jalan hidup jantan dan betina berpisah secara ekstrem.

Jika Menjadi Betina: Mulut Menjadi Senjata

Larva betina turun menuju laut dalam dan berubah menjadi bentuk yang kita kenal sebagai flabby whalefish.

Tubuhnya membesar. Sirip perut larva menghilang. Struktur tengkorak berubah drastis dan rahang memanjang menjadi mulut horizontal yang sangat lebar. Susunan tulang penyangga rahang dan lengkung insangnya juga mengalami rekonstruksi besar.
Penampakan Flabby Whalefish yang kita kenal
Penampakan Flabby Whalefish yang kita kenal.
Hasil akhirnya adalah ikan yang jauh lebih besar daripada jantannya dan tetap mampu makan sepanjang hidup.

Betina memakan terutama krustasea dan hewan laut dalam lainnya. Mulut yang besar serta struktur lengkung insang yang terspesialisasi memungkinkan mereka menangkap mangsa berukuran relatif besar, sebuah keuntungan penting dalam ekosistem tempat kesempatan bertemu makanan tidak datang setiap beberapa menit.

Jika hidup di tempat yang makanan sangat jarang, kemampuan memakan sesuatu ketika kesempatan akhirnya muncul mempunyai nilai evolusioner yang besar.

Jika Menjadi Jantan: Berhenti Makan Selamanya

Nasib larva jantan jauh lebih aneh.

Sebelum metamorfosis dimulai, juvenil jantan makan copepod sebanyak mungkin. Pada individu besar, perutnya dapat begitu penuh sehingga kumpulan copepod terlihat dari luar sebagai tonjolan berwarna jingga. Penelitian terhadap enam juvenil menemukan sekitar 40 hingga lebih dari 200 copepod di dalam saluran pencernaan masing-masing.
Ilustrasi juvenil jantan dengan isi perut besar
Ilustrasi juvenil jantan dengan isi perut besar.
Kemudian tubuhnya mulai berubah. Organ penciuman membesar. Sejumlah tulang tengkoraknya mengeras dan menyatu. Rahang atas menjadi sangat kaku. Vertebra pertama bahkan dapat menyatu dengan bagian belakang tengkorak.

Yang lebih ekstrem terjadi di dalam tubuh.

Jantan dewasa kehilangan lambung dan esofagusnya. Yang tersisa hanya bagian usus tipis dan vestigial. Pada saat yang sama, hati dan gonad tumbuh hingga memenuhi sebagian besar rongga tubuh. Setelah metamorfosis selesai, ia tidak lagi mempunyai sistem pencernaan fungsional untuk makan seperti sebelumnya.

Karena itu, mengatakan jantan “tidak memiliki mulut” sedikit berlebihan. Struktur mulut masih ada, tetapi alat makannya telah berubah sedemikian rupa sehingga tidak lagi berfungsi untuk memperoleh makanan.

Lalu bagaimana ia bertahan hidup? Di sinilah makan besar ketika masih menjadi tapetail memperoleh makna.

Para peneliti menemukan bahwa juvenil jantan menyimpan bolus besar berisi copepod sebelum metamorfosis. Energi dari makanan tersebut diperkirakan digunakan untuk membentuk hati yang luar biasa besar. Setelah dewasa, cadangan di dalam hati inilah yang kemudian menopang kehidupannya.

Jadi jantan tidak terus-menerus hidup dengan “mencerna cangkang copepod” yang tersisa. Cangkang memang masih dapat ditemukan di usus vestigial, tetapi fungsi penting pesta copepod masa mudanya adalah membangun cadangan energi sebelum sistem pencernaan dihentikan secara permanen.

Setelah itu tidak ada kesempatan kedua. Jantan dewasa hidup menggunakan apa yang berhasil ia kumpulkan ketika masih muda.

Dua Jenis Kelamin, Dua Jawaban atas Kelaparan

Perbedaan tersebut merupakan bentuk dimorfisme seksual yang ekstrem.

Betina mengambil strategi pertama. Tumbuh besar, mempertahankan sistem pencernaan, memperbesar mulut, lalu mampu memanfaatkan berbagai mangsa yang kebetulan ditemukannya. Jantan mengambil strategi kedua. Berhenti berinvestasi dalam pertumbuhan tubuh dan kemampuan mencari makanan. Ia tetap kecil, membesarkan organ penciuman serta sistem reproduksinya, lalu hidup menggunakan cadangan energi yang dikumpulkan sebelum dewasa.

Dalam lingkungan yang miskin makanan, keduanya merupakan dua jawaban evolusioner terhadap masalah yang sama. Betina menjadi mesin makan. Jantan berhenti makan sama sekali.

Perbedaan itu begitu besar sehingga selama puluhan tahun ahli zoologi yang memegang keduanya di tangan tidak menyadari bahwa mereka merupakan jantan dan betina dari keluarga ikan yang sama.

Misteri yang Belum Seluruhnya Selesai

Penemuan 2009 menyelesaikan teka-teki besarnya, tetapi bukan seluruh teka-teki Cetomimidae.

Para ilmuwan masih berusaha menghubungkan larva, jantan, dan betina setiap spesies secara tepat. Pada 2009, misalnya, data morfologi sudah dapat menghubungkan Mirapinna esau sebagai bentuk pascalarva Procetichthys kreffti, sementara Parataeniophorus bertelseni diperkirakan merupakan larva Ditropichthys storeri. Analisis DNA juga berhasil menghubungkan Parataeniophorus gulosus dengan betina Cetostoma regani.

Taksonominya bahkan masih berkembang hingga sekarang. Pada 2026, penelitian terhadap genus Gyrinomimus mendeskripsikan empat spesies baru berdasarkan spesimen betina dari Atlantik dan Pasifik, sekaligus membagi genus tersebut ke dalam tiga kelompok spesies berdasarkan anatomi insang, sistem lateral line dan karakter tubuh lainnya.

Status konservasinya juga tidak tepat bila diringkas sebagai “tidak terancam”. Sebagian spesies memang dinilai berisiko rendah, tetapi banyak Cetomimidae sangat jarang ditangkap dan biologinya kurang diketahui. Cetomimus picklei, misalnya, dinilai Least Concern, sementara Cetostoma regani, Cetomimus hempeli, dan Gyrinomimus parri tercatat Data Deficient dalam penilaian yang tersedia. Dengan kata lain, masalah utamanya sering kali bukan bukti bahwa populasinya menurun, melainkan kita belum mempunyai cukup data untuk mengetahui keadaannya.

Flabby whalefish akhirnya menjadi contoh ekstrem tentang betapa menyesatkannya bentuk tubuh dalam taksonomi. Seekor larva kecil bercambuk panjang di dekat permukaan, seekor jantan berhidung besar yang tidak lagi makan di kegelapan laut dalam, dan seekor betina merah dengan rahang seperti jebakan pernah tampak cukup berbeda untuk ditempatkan dalam tiga famili tersendiri.

DNA dan beberapa individu yang kebetulan tertangkap di tengah metamorfosis menunjukkan sebaliknya. Mereka bukan tiga garis kehidupan yang berbeda, melainkan tiga wajah dari siklus hidup yang sama.

Sumber Artikel

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar