Lewati ke konten
NTHL.me

Penjelasan Singkat Pygmy Hog

Pygmy Hog atau Porcula salvania adalah spesies babi liar terkecil di dunia sekaligus satu-satunya anggota genus Porcula yang masih hidup. Panjang tubuh dewasanya hanya sekitar 55-71 sentimeter, tinggi bahu sekitar 25 sentimeter, dan beratnya umumnya 6,6-9,7 kilogram. Ukurannya bahkan dapat lebih kecil daripada beberapa ras anjing peliharaan, tetapi tubuh mungil itu merupakan hasil adaptasi terhadap salah satu habitat yang sangat khusus: padang rumput tinggi dan rapat di kaki Pegunungan Himalaya.
Foto Pygmy Hog pada konservasi pengembangbiakannya
Foto Pygmy Hog pada konservasi pengembangbiakannya. Sumber gambar
Secara historis, pygmy hog diperkirakan pernah menghuni sabuk padang rumput aluvial yang membentang di sepanjang kaki selatan Himalaya, dari India utara melalui Nepal hingga Assam dan mungkin sebagian Bhutan. Namun sebagian besar habitat tersebut menghilang akibat pertanian, permukiman, perkebunan, perubahan tata air, dan pengelolaan padang rumput yang tidak sesuai. Pada akhir abad ke-20, populasi alaminya telah menyusut hingga praktis hanya tersisa di Assam, India.

Namanya juga mempunyai sejarah ilmiah yang menarik. Ketika Brian Houghton Hodgson mendeskripsikan spesies ini pada 1847, ia menempatkannya dalam genus tersendiri, Porcula. Belakangan para ahli menggabungkannya dengan babi-babi genus Sus, sehingga untuk waktu yang lama spesies ini dikenal sebagai Sus salvanius. Analisis DNA yang diterbitkan pada 2007 menunjukkan bahwa pygmy hog memang membentuk garis evolusi yang cukup berbeda sehingga klasifikasi awal Hodgson lebih tepat. Nama Porcula salvania kemudian kembali digunakan.

Secara fisik, pygmy hog mempunyai tubuh rendah dan ramping, kaki pendek, telinga kecil, ekor yang sangat pendek, serta moncong yang relatif sempit. Bulunya kasar dengan warna cokelat gelap hingga keabu-abuan. Anak yang masih muda mempunyai pola garis yang samar sebelum memperoleh warna dewasa. Bentuk tubuhnya yang meruncing dan relatif kecil membuat hewan ini dapat bergerak cepat melalui rumpun rumput yang begitu rapat sehingga hewan berukuran besar akan kesulitan menembusnya.

Habitat tersebut bukan sembarang padang rumput. Pygmy hog bergantung pada padang rumput aluvial tinggi sub-Himalaya, sebuah ekosistem yang terbentuk oleh kombinasi banjir, pergantian vegetasi, dan gangguan alami. Rumput tinggi menyediakan makanan, perlindungan dari pemangsa, tempat melahirkan, sekaligus bahan bangunan. Karena ketergantungannya begitu kuat, keberadaan pygmy hog sering dipandang sebagai salah satu indikator bahwa ekosistem padang rumput tersebut masih berada dalam kondisi relatif sehat.

Pygmy hog umumnya aktif pada siang hari. Mereka mencari makanan dengan mengendus dan menggali tanah menggunakan moncongnya. Makanannya bersifat omnivora, meliputi akar, umbi, pucuk tumbuhan, rumput dan vegetasi rendah, cacing serta berbagai invertebrata. Mereka kemungkinan juga memakan reptil kecil serta telur atau anak burung yang bersarang di tanah ketika kesempatan muncul.

Betina dan anak-anak biasanya hidup dalam kelompok keluarga kecil beranggotakan sekitar empat hingga enam individu. Jantan dewasa lebih sering hidup sendirian, tetapi dapat bergabung dengan kelompok betina selama musim kawin dan mempertahankan hubungan longgar dengan kelompok tersebut pada waktu lain.

Salah satu perilaku paling luar biasa dari pygmy hog adalah membangun rumah dari rumput.

Banyak babi liar membuat sarang ketika akan melahirkan, tetapi pygmy hog menggunakan sarang sepanjang tahun. Dengan moncongnya mereka membuat lekukan dangkal di tanah, kemudian menyusun rumput dan bahan tumbuhan menjadi struktur bertutup seperti kubah kecil. Sarang tersebut digunakan untuk tidur, berlindung dari panas, hujan dan udara dingin, serta membesarkan anak. Kedua jenis kelamin dan bahkan individu muda ikut membangun atau memperbaikinya. Perilaku membuat dan memakai sarang secara terus-menerus seperti ini dianggap sangat tidak biasa di antara babi liar.

Reproduksinya juga mengikuti perubahan musim. Perkawinan terutama berlangsung antara akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, sedangkan sebagian besar kelahiran terjadi menjelang atau pada awal musim monsun sekitar April-Mei di Assam. Seekor betina biasanya melahirkan beberapa anak. Pengamatan penangkaran mencatat dua hingga tujuh anak dalam satu kelahiran, meskipun empat hingga enam cukup umum dalam populasi penangkaran.

Ukuran kecil dan kebiasaannya bersembunyi di dalam rumput membuat pygmy hog sangat sulit diamati. Ironisnya, sifat itulah yang sempat membuat manusia mengira spesies ini telah menghilang sepenuhnya.

Pada pertengahan abad ke-20, setelah bertahun-tahun tanpa laporan yang dapat dipercaya, pygmy hog dikhawatirkan telah punah. Kemudian pada 1971, sekelompok hewan ditemukan kembali di Assam setelah kebakaran padang rumput memaksa mereka keluar dari habitat rapatnya dan mencari perlindungan di sebuah perkebunan teh dekat Barnadi. Penemuan lain pada periode yang sama mengonfirmasi keberadaannya di Manas. “Kebangkitan kembali” tersebut menjadi awal salah satu program pemulihan mamalia paling menarik di India.

Namun penyelamatan tidak berlangsung cepat. Habitat pygmy hog terus menyusut, sementara kebakaran padang rumput pada musim kering dapat memusnahkan vegetasi yang menjadi tempat berlindung dan bersarang. Pembakaran dalam jumlah terbatas sebenarnya merupakan bagian dari dinamika sejumlah ekosistem padang rumput, tetapi pembakaran yang terlalu luas, terlalu sering, atau dilakukan pada waktu yang salah dapat menghilangkan seluruh perlindungan yang dibutuhkan hewan sekecil pygmy hog. Ancaman lain meliputi perluasan pertanian dan permukiman, invasi tumbuhan asing, pertumbuhan semak dan pepohonan yang mengubah padang rumput menjadi hutan muda, penggembalaan ternak, serta risiko penyakit dari babi dan ternak domestik.

Pada 1996, Pygmy Hog Conservation Programme (PHCP) memulai program penangkaran konservasi dengan enam hewan liar dari Manas, dua jantan dan empat betina. Populasi kecil ini menjadi semacam polis asuransi terhadap kepunahan. Pengembangbiakan dilakukan dengan pasangan yang dipilih secara hati-hati agar sebanyak mungkin variasi genetik dapat dipertahankan.

Tantangannya besar karena seluruh program pada awalnya bergantung pada sangat sedikit pendiri. Penelitian genetika pada beberapa generasi hasil penangkaran menemukan bahwa pygmy hog memang memiliki keragaman genom yang rendah dibandingkan banyak anggota keluarga Suidae lainnya. Meskipun demikian, strategi pemilihan pasangan mampu mempertahankan keragaman penting dan tidak menemukan bukti kuat terjadinya peningkatan inbreeding yang serius pada generasi yang diperiksa. Hal ini menunjukkan bahwa penangkaran konservasi dapat menjadi alat penyelamatan yang efektif apabila silsilah dan genetika dikelola dengan ketat.

Setelah populasi penangkaran cukup kuat, fase berikutnya dimulai: mengembalikan mereka ke alam liar. Pelepasliaran pertama dilakukan pada 2008. Sebelum dilepas, hewan ditempatkan dalam kandang prakondisi yang menyerupai habitat alami, dengan kontak manusia seminimal mungkin. Di sana mereka kembali belajar mencari makanan, membangun sarang dan hidup sebagai kelompok sebelum memperoleh akses ke padang rumput terbuka.

Hasilnya cukup luar biasa. Pygmy hog telah dilepas kembali ke sejumlah kawasan lindung Assam, termasuk Sonai Rupai Wildlife Sanctuary, Orang National Park, Barnadi Wildlife Sanctuary dan Manas National Park. Pada Oktober 2024, jumlah kumulatif hewan yang telah dilepas mencapai 179.

Perjalanan itu berlanjut. Pada 7 Juni 2026, sebanyak 15 pygmy hog, sembilan betina dan enam jantan dilepas ke padang rumput Kuribeel di Manas National Park. Lokasi tersebut memiliki arti khusus. Sekitar tiga dekade sebelumnya, leluhur program penangkaran diambil dari kawasan yang sama untuk mencegah spesiesnya menghilang. Dengan pelepasliaran tersebut, jumlah kumulatif pygmy hog yang telah dikembangbiakkan dan dikembalikan ke alam oleh PHCP mencapai 194 individu. Program konservasi selanjutnya menargetkan pelepasliaran sekitar 80 individu tambahan selama lima tahun berikutnya.

Orang National Park memberikan salah satu tanda keberhasilan paling menjanjikan. Setelah serangkaian reintroduksi, kawasan itu diperkirakan telah mendukung sekitar 200 pygmy hog yang lahir di alam, bukan sekadar hewan hasil penangkaran yang baru dilepas. Jika populasi seperti ini mampu berkembang tanpa penambahan terus-menerus dari pusat pembiakan, tujuan akhir konservasi, populasi liar yang mandiri mulai terlihat mungkin dicapai.

Keberhasilan tersebut ikut mengubah penilaian konservasinya. Pygmy hog selama bertahun-tahun dikategorikan Critically Endangered atau Sangat Terancam Punah. Pada penilaian IUCN 2019, status globalnya diturunkan menjadi Endangered (EN) setelah program pembiakan dan reintroduksi meningkatkan jumlah serta memperluas kembali sebarannya. Karena sejumlah sumber lama belum diperbarui, status Critically Endangered masih sering ditemukan dalam artikel atau profil spesies.

Perubahan dari Critically Endangered menjadi Endangered tentu merupakan kabar baik, tetapi kata “Endangered” tetap berarti spesies tersebut menghadapi risiko kepunahan yang tinggi. Jumlahnya masih kecil, habitatnya sangat terbatas, dan keberhasilan pemulihannya bergantung pada sesuatu yang jauh lebih besar daripada menyelamatkan seekor babi kecil. 

Pygmy hog karena itu mempunyai nilai konservasi yang melampaui tubuhnya yang hanya beberapa kilogram. Melindungi habitatnya juga membantu mempertahankan ekosistem yang digunakan badak India, harimau, kelinci hispid, rusa, dan kalkun padang benggala serta berbagai spesies lain yang bergantung pada padang rumput sub-Himalaya.

Ada ironi kecil dalam kisahnya. Salah satu babi terkecil di dunia ternyata membutuhkan pekerjaan konservasi yang sangat besar untuk bertahan hidup. Ia pernah dianggap hilang, ditemukan kembali karena api yang mengusirnya dari persembunyian, lalu hampir setengah abad kemudian keturunannya dikembalikan ke padang rumput yang sama.
Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar