Lewati ke konten
NTHL.me

Getaran Seismik Mikro 26 Detik Bumi

Ilustrasi lautan
Ilustrasi lautan. Sumber gambar
26-second microseism atau mikroseismik 26 detik pada Bumi adalah sinyal seismik berperiode sekitar 26 detik, setara dengan frekuensi sekitar 0,038 Hz, yang muncul sebagai garis sempit dalam spektrum kebisingan seismik Bumi. Sinyalnya sangat lemah sehingga manusia tidak dapat merasakannya, tetapi seismometer sensitif dapat mendeteksinya dari tempat-tempat yang sangat jauh dari sumbernya.

Kadang fenomena ini digambarkan sebagai “denyut Bumi setiap 26 detik”. Gambaran tersebut cukup menarik, tetapi sedikit menyesatkan. Bumi bukan mengalami gempa baru setiap 26 detik. Yang terjadi lebih menyerupai sebuah nada rendah yang berosilasi terus-menerus. Permukaan Bumi bergerak sangat kecil dengan pola yang berulang kira-kira sekali setiap 26 detik.

Fenomena ini mulai menarik perhatian pada awal 1960-an. Pada 6 Juni 1961, seismolog Jack Oliver mengamati gelombang seismikmikro berperiode sekitar 26–27 detik yang tercatat oleh stasiun seismik di berbagai belahan dunia. Di Palisades, New York, instrumen yang sangat sensitif bahkan mengikuti satu episode selama hampir dua hari, ketika periodenya perlahan berubah dari sekitar 28 menjadi 20 detik. Oliver mempublikasikan temuannya pada 1962 dan menduga sumbernya berada di Atlantik bagian selatan atau khatulistiwa, dengan kawasan Teluk Guinea sebagai salah satu kandidat utama.

Pada 1980, L. Gary Holcomb menunjukkan bahwa fenomena tersebut bukan sekadar kejadian sesaat. Ia menemukan puncak spektral sempit di sekitar periode 26 detik sebagai bagian dari kebisingan seismik latar Bumi. Energinya terutama merambat sebagai gelombang Rayleigh, yaitu gelombang permukaan yang membuat tanah bergerak dalam pola gabungan vertikal dan horizontal. Amplitudonya dapat meningkat tajam pada waktu-waktu tertentu, sementara “nada” dasarnya tetap sangat sempit.

Lokasi sumbernya menjadi jauh lebih jelas pada 2006. Nikolai Shapiro dan rekan-rekannya menggunakan korelasi kebisingan seismik dari stasiun di Amerika Utara, Eropa, dan Afrika untuk melacak arah rambatnya. Hasilnya menunjuk ke satu kawasan yang relatif tetap di Teluk Guinea, di lepas pantai Afrika Barat. Gelombangnya merambat dengan kecepatan rata-rata sekitar 3,5 kilometer per detik, sesuai dengan karakter gelombang Rayleigh pada periode tersebut.

Namun mengetahui lokasinya ternyata lebih mudah daripada mengetahui apa yang sebenarnya bergetar di sana.

Laut sejak lama menjadi tersangka utama. Microseism biasa memang sebagian besar dihasilkan oleh energi gelombang laut yang diteruskan ke dasar samudra dan kemudian ke kerak Bumi. Akan tetapi, sinyal 26 detik terlalu sempit, terlokalisasi, dan persisten untuk dijelaskan dengan mudah menggunakan mekanisme mikroseismik laut biasa. Di kawasan sumbernya juga tidak diketahui terdapat gunung api aktif yang dapat dengan sederhana menjelaskan tremor tersebut. Karena itu, selama puluhan tahun muncul berbagai dugaan, mulai dari interaksi gelombang laut dengan tepian benua hingga proses yang melibatkan fluida atau aktivitas vulkanik di bawah dasar laut.

Misterinya bertambah pada 2023 ketika Charlotte Bruland dan Celine Hadziioannou menemukan gliding tremors yang berhubungan dengan sumber yang sama. Pada beberapa kejadian, frekuensi tremor bermula tepat di sekitar 0,038 Hz, periode 26 detik, kemudian perlahan meningkat selama berjam-jam hingga beberapa hari. Tremor semacam itu dapat terdeteksi pada stasiun yang sangat jauh ketika energinya cukup kuat. Sifatnya yang berulang, sangat stabil, dan telah bertahan selama beberapa dekade menunjukkan adanya suatu proses fisik yang dapat beresonansi tanpa menghancurkan sumbernya.

Penelitian yang diterbitkan pada 2026 kemudian memberikan petunjuk yang lebih kuat. Dengan membandingkan data seismik 2021-2024, model gelombang laut, dan pengamatan satelit, Piero Poli dan rekan-rekannya menemukan bahwa penguatan sinyal 26 detik berkaitan dengan gelombang (swell) yang berasal dari Samudra Selatan dan kemudian mencapai Teluk Guinea. Ketika periode gelombang mendekati sekitar 26 detik, sinyal seismik dari kawasan sumber ikut menguat.

Tetapi gelombang laut tampaknya hanya sebagian dari jawabannya. Perhitungan mereka menunjukkan bahwa pembangkitan mikroseismik biasa tidak cukup untuk menghasilkan puncak 26 detik yang sangat sempit. Salah satu mekanisme yang diajukan adalah keberadaan rekahan atau saluran bawah tanah berisi fluida pada lapisan sedimen atau kerak dangkal di bawah dasar laut. Tekanan dan getaran yang dihasilkan gelombang laut dapat memaksa fluida di dalam struktur tersebut berosilasi. Jika frekuensinya mendekati frekuensi alaminya, struktur itu akan beresonansi, mirip badan gitar yang memperkuat getaran senar, kemudian memancarkan gelombang Rayleigh yang dapat menjalar ke seluruh dunia.

Model tersebut juga menarik karena Teluk Guinea diketahui memiliki banyak struktur geologi yang berkaitan dengan migrasi dan keluarnya fluida. Namun mekanisme resonansi rekahan ini masih merupakan interpretasi berdasarkan pengamatan dan pemodelan, bukan penjelasan akhir yang telah terbukti tanpa keraguan. Fenomena lain yang berkaitan, termasuk sinyal berperiode sekitar 16 detik dan tremor yang frekuensinya berubah perlahan, menunjukkan bahwa kawasan tersebut mungkin menyimpan sistem yang lebih kompleks daripada satu sumber tunggal.

Karena itu, mikroseismik 26 detik menarik karena ia memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara atmosfer, lautan, dan bagian padat planet ini. Badai ribuan kilometer jauhnya dapat membentuk gelombang, gelombang menekan dasar laut, struktur geologi tertentu mungkin beresonansi, lalu getaran kecil itu merambat melalui kerak hingga tertangkap oleh seismometer di benua lain.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar