Lewati ke konten
NTHL.me

Biografi Singkat Sigmund Freud

Sigmund Freud (6 Mei 1856 - 23 September 1939) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh sekaligus paling diperdebatkan dalam sejarah psikologi modern. Manusia sejak lama tahu bahwa dirinya dapat menyimpan rahasia terhadap orang lain. Freud membantu mempopulerkan gagasan yang jauh lebih mengganggu bahwa manusia juga dapat menjadi rahasia bagi dirinya sendiri. Ia memulai karier sebagai dokter dan peneliti neurologi, tetapi perlahan meninggalkan pencarian penyebab fisik semata untuk menyelidiki mimpi, ingatan, fantasi, dan bagian kehidupan mental yang tidak berada di bawah kendali kesadaran. Dari pekerjaan itu lahirlah psikoanalisis sekaligus metode terapi, teori tentang pikiran, dan gerakan intelektual yang menyebar dari Wina ke berbagai negara.

Potret Sigmund Freud tahun 1921-an
Potret Sigmund Freud tahun 1921-an. Sumber gambar

Freud lahir di Freiberg in Mähren, Moravia yang kini bernama Příbor di Republik Ceko dalam keluarga Yahudi, dan ketika masih kecil keluarganya menetap di Wina, kota yang menjadi pusat kehidupan pribadi dan intelektualnya selama hampir delapan dekade. Ia memasuki Universitas Wina pada 1873 untuk mempelajari kedokteran, tetapi minat awalnya bukan psikoterapi melainkan biologi, anatomi, dan sistem saraf. Selama beberapa tahun ia membayangkan kariernya terutama sebagai ilmuwan. Latar itu penting. Teori psikologi Freud tidak tumbuh dari tradisi mistisisme, melainkan dari usaha seorang dokter abad ke-19 menjelaskan fenomena yang belum dapat diterangkan neurologi pada zamannya.

Salah satu perubahan terpentingnya terjadi pada 1885-1886, ketika ia belajar di Paris bersama Jean-Martin Charcot di rumah sakit Salpêtrière. Charcot, salah satu neurolog terkemuka Eropa, terkenal karena penelitiannya terhadap histeria, istilah medis masa itu untuk gejala seperti kelumpuhan atau kejang yang muncul tanpa kerusakan organ yang jelas dan memperlihatkan bahwa gejala itu dapat dipengaruhi lewat hipnosis. Bagi Freud konsekuensinya besar. Bila kelumpuhan dapat muncul dan hilang tanpa perubahan saraf yang terlihat, penyebabnya mungkin tak sepenuhnya berada pada tubuh. Sekembalinya ke Wina, jalannya menuju psikoanalisis juga sangat dipengaruhi dokter Josef Breuer, yang pernah merawat Bertha Pappenheim, pasien Breuer, bukan Freud yang kelak terkenal dengan nama samaran Anna O. Pappenheim menemukan bahwa membicarakan pengalaman yang berkaitan dengan gejalanya kadang memberi kelegaan, prosedur yang kemudian dikenal sebagai talking cure. Meski kisah keberhasilannya kelak ternyata lebih rumit daripada gambaran awalnya, kasus itu penting, dan pada 1895 Freud dan Breuer menerbitkan Studies on Hysteria, salah satu landasan awal psikoanalisis.

Freud kemudian kian tak puas pada hipnosis. Tak semua pasien dapat dihipnosis, dan sugesti dokter dapat memengaruhi jawaban mereka lalu mengembangkan metode berbeda. Meminta pasien mengatakan apa pun yang muncul dalam pikirannya, bahkan bila memalukan atau tampak tak relevan. Teknik free association ini menjadi salah satu pencapaian metodologis terpenting psikoanalisis. Alih-alih dokter memberi perintah, percakapan dipakai menjadi bahan utama terapi, dan keraguan, jeda, mimpi, kesalahan bicara, serta hal yang ingin dihindari pasien dianggap memberi petunjuk tentang konflik yang tak disadari. Dari sini Freud mengembangkan gagasan tentang resistance, kecenderungan menjauh dari pikiran yang terlalu menyakitkan dan transference, ketika pola hubungan lama muncul kembali dalam hubungan pasien dan analis. Psikoanalisis, dengan demikian, tak lahir pada satu hari tetapi berkembang perlahan dari neurologi, hipnosis, kerja bersama Breuer, dan perubahan teknik sepanjang 1890-an.

Titik penting berikutnya adalah Die Traumdeutung atau The Interpretation of Dreams, terbit akhir 1899 tetapi tercantum tahun 1900 pada edisi pertamanya, sehingga 1900 lazim disebut sebagai tahun penerbitannya. Di sana Freud menjelaskan mimpi bukan sebagai pesan supernatural ataupun aktivitas otak yang sepenuhnya tak bermakna, melainkan sebagai produk kehidupan mental. Pikiran dan keinginan yang tak dapat diterima secara sadar dapat berubah bentuk ketika muncul dalam mimpi. Buku itu juga salah satu perumusan besar pertamanya tentang ketidaksadaran dinamis, bukan sekadar gagasan bahwa sebagian proses mental berada di luar kesadaran, melainkan bahwa pikiran yang tak disadari tetap aktif. Dapat bertentangan dengan kehendak sadar, membentuk gejala, dan muncul lewat tindakan yang tampak tak disengaja. Ia memperluasnya pada 1901 dalam The Psychopathology of Everyday Life, tempat kesalahan bicara atau lupa yang tampak kebetulan dihubungkan dengan motivasi tak sadar, dari sinilah budaya populer mengenal istilah Freudian slip, meski istilah teknis Freud lebih dekat dengan parapraxis.

Salah satu karyanya yang paling kontroversial terbit pada 1905, Three Essays on the Theory of Sexuality, tempat Freud memakai pengertian “seksualitas” jauh lebih luas daripada hubungan seksual orang dewasa, mencakup berbagai bentuk kenikmatan tubuh dan pengalaman perkembangan masa kanak-kanak. Gagasan infantile sexuality sangat radikal bagi masyarakat Eropa saat itu, dan dari teori itu berkembang tahap perkembangan psikoseksual serta Oedipus complex. Banyak rumusan ini kini tak diterima sebagai model perkembangan universal dalam psikologi modern. Namun secara historis, gagasan bahwa pengalaman masa kecil mempunyai konsekuensi psikologis terhadap kehidupan dewasa turut mengubah cara abad ke-20 membicarakan perkembangan manusia.

Pada mulanya Freud bekerja dengan kelompok yang sangat kecil. Sejak 1902, beberapa dokter dan intelektual berkumpul setiap Rabu malam di rumahnya di Berggasse 19, Wednesday Psychological Society yang pada 1908 berkembang menjadi Vienna Psychoanalytic Society. Pada tahun yang sama diadakan kongres psikoanalisis internasional pertama di Salzburg, dan gerakan itu mulai menarik tokoh dari luar Wina, termasuk Carl Gustav Jung dari Zürich, Sándor Ferenczi dari Budapest, dan Ernest Jones dari Inggris. Pengakuan internasional meningkat pada 1909 ketika Freud diundang memberikan lima ceramah di Clark University, Massachusetts, Jung dan Ferenczi ikut serta. Setahun kemudian, pada kongres Nürnberg 1910, berdiri International Psychoanalytical Association (IPA), dengan Jung sebagai presiden pertamanya. Pembentukannya mengubah psikoanalisis dari lingkaran kecil di Wina menjadi gerakan internasional dengan organisasi, kongres, jurnal, dan pelatihannya sendiri.

Pertumbuhan itu sekaligus melahirkan konflik. Alfred Adler, yang kian menekankan inferioritas dan kekuasaan daripada teori libido, berpisah pada awal 1910-an. Namun perpecahan dengan Carl Jung jauh lebih terkenal. Freud dan Jung bertemu pada 1907 dan selama beberapa tahun berhubungan sangat dekat. Freud bahkan berharap Jung, seorang Kristen Swiss, dapat membantu menghapus kesan bahwa psikoanalisis sekadar gerakan kecil Yahudi dari Wina. Tetapi Jung kian menolak penekanan Freud pada seksualitas dan memperluas konsep libido menjadi energi psikis yang lebih umum, dan hubungan mereka pecah pada 1913. Perpecahan itu tak semata soal seksualitas. Ia juga menyentuh okultisme. Jung dan Ferenczi menarik perhatian Freud pada telepati, dan pada sebuah kunjungan Jung ke Wina pada 1909 terjadi peristiwa yang tak pernah dilupakan keduanya, Jung meramalkan sebuah bunyi keras dari rak buku Freud, bunyi itu terjadi, ia meramalkannya sekali lagi, dan bunyi itu terjadi lagi, membuat Freud gusar. Bertahun-tahun kemudian Jung mengenang Freud memintanya menjadikan teori seksual sebuah “dogma” dan “benteng yang tak tergoyahkan”. Ketika Jung bertanya benteng terhadap apa, Freud menjawab: terhadap “gelombang lumpur hitam okultisme”.

Sikap Freud sendiri terhadap okultisme memang rumit. Ia akhirnya menerima kemungkinan telepati, meski dengan enggan dan cemas hal itu akan mencemari reputasi psikoanalisis sebagai kegiatan ilmiah. Telepati ia sebut satu-satunya fenomena “paranormal” yang mungkin menyimpan sebutir kebenaran di tengah “gelombang lumpur hitam” tadi. Ia bahkan menulis beberapa makalah tentang telepati dan mimpi, dan sempat dibantu Ferenczi serta putrinya, Anna melakukan percobaan telepati informal, meski ia berhati-hati agar penelitian semacam itu tak dipublikasikan secara resmi. Dalam salah satu ungkapannya yang paling jujur, ia mengakui bahwa seandainya ia berada di awal, bukan di akhir, kariernya, ia mungkin justru akan memilih meneliti bidang itu. Inilah paradoks yang menempatkan Freud tepat pada garis pemisah zamannya. Seorang ilmuwan yang menegaskan penjelasan rasional atas jiwa, tetapi yang diam-diam tak pernah bisa sepenuhnya melepaskan misteri yang ingin ia usir.

Freud sendiri terus mengubah teorinya. Gambaran populer tentang id, ego, dan superego sebenarnya bagian yang relatif terlambat dalam kariernya, bukan dasar sejak awal. Pada fase awal ia lebih membedakan proses sadar, prasadar, dan tak sadar, dan baru setelah Perang Dunia Pertama dalam Beyond the Pleasure Principle (1920), yang mempertanyakan apakah seluruh kehidupan mental dapat dijelaskan lewat pencarian kesenangan, lalu The Ego and the Id (1923) memunculkan model strukturalnya. Id menunjuk wilayah dorongan tak sadar, ego berkembang sebagai organisasi yang harus berhubungan dengan dunia luar sekaligus tuntutan internal; superego berkaitan dengan larangan dan ideal yang telah diinternalisasi. Namun gambaran “id jahat, ego logis, superego baik” terlalu sederhana. Ketiganya bagian dari sistem yang terus berkonflik, dan sebagian besar ego serta superego pun dapat bekerja secara tak sadar. Freud juga mengembangkan konsep repression, tetapi sistematisasi “mekanisme pertahanan” bukan semata karyanya. Putrinya, Anna Freud, mengembangkannya jauh lebih teratur dalam The Ego and the Mechanisms of Defence (1936).

Freud menyampaikan banyak teorinya lewat studi kasus yang menjadi bagian sejarah psikologi. “Dora”, “Little Hans”, “Rat Man”, dan “Wolf Man”, membaca gejala pasien seperti membaca jejak. Namun kasus-kasus itu juga menunjukkan keterbatasannya. Catatan asli memperlihatkan hasil terapi terkadang tak sebaik gambaran yang kemudian diterbitkan. Ida Bauer, yang dikenal sebagai “Dora”, menghentikan perawatannya setelah merasa tak dipahami Freud, dan dalam kasus “Rat Man” Freud kadang membuat hasilnya tampak lebih menguntungkan dalam versi terbitannya. Karena itu Freud penting bukan karena semua interpretasinya terbukti benar, melainkan karena ia mengembangkan cara baru melakukan percakapan klinis, memberi perhatian besar pada sejarah pribadi pasien, konflik emosi, hubungan terapeutik, mimpi, dan makna subjektif suatu gejala.

Freud akhirnya memperluas psikoanalisis dari ruang terapi menuju agama, seni, dan masyarakat. Totem and Taboo (1913) mencoba memakainya untuk membahas asal-usul kebudayaan dan agama, dan setelah Perang Dunia Pertama ia kian pesimistis tentang kemampuan peradaban mengendalikan agresi manusia. Dalam Civilization and Its Discontents (1930) ia menggambarkan kehidupan beradab sebagai kompromi yang tak pernah selesai antara dorongan individu dan tuntutan hidup bersama manusia memperoleh keamanan lewat masyarakat, tetapi harus menyerahkan sebagian kebebasannya, dan dari ketegangan itu muncul rasa bersalah. Pada 1933 ia bahkan berkorespondensi dengan Albert Einstein tentang penyebab perang dalam Why War? Ketika kota Frankfurt menganugerahinya Goethe Prize pada 1930, penghargaan itu menandai posisinya. Ia telah melampaui dunia kedokteran dan menjadi salah satu pemikir publik besar Eropa.

Kehidupan pribadinya kian berat. Pada 1923 Freud didiagnosis menderita kanker rahang dan langit-langit mulut yang memaksanya menjalani banyak operasi dan memakai prostesis, meski ia terus menerima pasien dan menulis selama bertahun-tahun. Sementara itu politik Eropa memburuk. Pada Mei 1933 rezim Nazi membakar buku-bukunya, dan setelah Jerman menganeksasi Austria pada Maret 1938, keluarganya, yang Yahudi berada dalam bahaya. Anna Freud bahkan sempat ditahan dan diinterogasi Gestapo. Dengan bantuan jaringan internasional, Freud yang berusia 82 tahun akhirnya memperoleh izin pergi, dan pada 4 Juni 1938 ia meninggalkan Berggasse 19 menuju London untuk selamanya. Tidak semua keluarganya selamat. Empat saudara perempuannya yang tetap di Wina kemudian dibunuh dalam Holocaust. Di London ia menetap di 20 Maresfield Gardens dan menyelesaikan karya terakhirnya, termasuk Moses and Monotheism. Pada September 1939, ketika kanker yang telah menggerogotinya selama enam belas tahun menimbulkan penderitaan yang sangat berat, dokternya, Max Schur, memberikan morfin dosis besar atas permintaan Freud sendiri sesuai kesepakatan lama mereka, lebih tepat disebut sedasi dan analgesia terminal atas permintaannya daripada sekadar “euthanasia”. Sigmund Freud meninggal pada 23 September 1939 dalam usia 83 tahun, hanya beberapa minggu setelah Perang Dunia Kedua pecah.

Banyak teori Freud kini tak diterima dalam bentuk aslinya oleh psikologi eksperimental dan ilmu saraf, dan studi kasusnya memperlihatkan persoalan subjektivitas analis serta interpretasi yang sulit dibantah. Namun mengukurnya hanya dari apakah tiap teorinya tetap benar akan kehilangan bagian penting sejarahnya. Psikoanalisis mengubah cara sebagian besar abad ke-20 membicarakan masa kanak-kanak, konflik batin, trauma, mimpi, seksualitas, dan hubungan pasien dengan terapis, dan International Psychoanalytical Association yang lahir pada 1910 masih beroperasi lebih dari satu abad kemudian. Pengaruhnya bahkan lebih besar di luar klinik, sastra, seni modern, film, dan terutama Surrealisme menemukan dalam ketidaksadaran Freudian sebuah bahasa untuk mimpi dan keinginan tersembunyi. Freud tidak menemukan ketidaksadaran dan tidak menyelesaikan seluruh persoalan psikologi. Pencapaiannya yang lebih mendasar adalah menjadikan kehidupan batin yang tak disadari sebagai persoalan yang tak dapat begitu saja diabaikan. Dan di situlah letak tempatnya dalam kisah yang lebih panjang. 

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar