Biografi Singkat Nathaniel Hawthorne
Isi Tulisan
Nathaniel Hawthorne (4 Juli 1804 - 19 Mei 1864) adalah novelis dan penulis cerita pendek Amerika yang menjadi salah satu tokoh utama Romantisisme Gelap. Karyanya nyaris tidak menghadirkan monster dalam pengertian biasa; sumber kegelapan Hawthorne adalah hati nurani manusia yaitu dosa yang disembunyikan, rasa bersalah yang tak pernah benar-benar mati, penghakiman masyarakat, dan kesalahan masa lalu yang terus hidup dalam diri generasi berikutnya.
![]() |
| Potret Nathaniel Hawthorne, 1860-an. Sumber gambar |
Ia lahir di Salem, Massachusetts, dengan nama Nathaniel Hathorne. Kota itu bukan sekadar tempat kelahirannya, melainkan ruang sejarah yang terus membayangi imajinasinya. Keluarganya telah menetap di wilayah itu sejak masa koloni Puritan. Salah satu leluhur awalnya, William Hathorne, dikenal sebagai pejabat yang keras terhadap kaum Quaker; putranya, John Hathorne, kemudian menjadi salah satu hakim yang memeriksa para tertuduh dalam Pengadilan Penyihir Salem tahun 1692.
John Hathorne tidak sekadar berada di pinggiran pengadilan itu. Ia aktif menginterogasi para tertuduh, dan namanya kemudian melekat pada sejarah penindasan di Salem. Berbeda dari hakim Samuel Sewall yang kelak menyatakan penyesalan, tidak ditemukan pengakuan serupa dari John Hathorne. Bagi Nathaniel, sejarah keluarga itu bukan benda mati yang bisa ditinggalkan begitu saja.
Dalam The Custom-House, bagian pembuka The Scarlet Letter, Hawthorne membicarakan leluhurnya dengan bahasa yang sangat keras. Ia menyebut salah seorang dari mereka sebagai penganiaya yang kejam dan menyatakan bahwa darah para korban pengadilan penyihir telah meninggalkan noda pada keluarganya. Ia bahkan secara simbolis memikul rasa malu itu ke atas dirinya sendiri dan berharap kutukan yang mungkin ditimbulkan oleh tindakan leluhurnya dapat diakhiri.
Hawthorne lahir dengan ejaan Hathorne, tetapi mulai menambahkan huruf “w” pada namanya sejak muda. Perubahan itu sering dipahami sebagai cara mengambil jarak dari John Hathorne dan warisan Pengadilan Penyihir Salem dimana penafsiran yang masuk akal, mengingat betapa terbukanya ia membicarakan noda keluarganya dalam tulisan. Namun tidak ada dokumen yang diketahui memuat pernyataan langsung Hawthorne bahwa itulah satu-satunya alasannya.
Hubungan antara nama, darah, dan kesalahan masa lalu inilah yang kemudian menjadi inti imajinasi Hawthorne. Ia tidak memandang dosa sebagai perbuatan yang selesai begitu pelakunya meninggal. Dosa bisa berubah menjadi warisan yang tersimpan dalam rumah, tanah, kekayaan, lembaga, nama keluarga, dan cara suatu masyarakat mengingat sejarahnya. Dalam dunia Hawthorne, orang yang tidak melakukan kejahatan awal pun dapat hidup di bawah akibatnya.
Setelah ayahnya, seorang kapten kapal, meninggal ketika ia masih kecil, Hawthorne dibesarkan terutama oleh ibu dan keluarga dari pihak ibunya. Pada 1821, ia masuk Bowdoin College di Maine, seangkatan dengan penyair Henry Wadsworth Longfellow dan Franklin Pierce yang kelak menjadi presiden Amerika Serikat sekaligus salah satu sahabat terdekatnya.
Sejak muda Hawthorne telah bertekad menjadi penulis, tetapi jalan menuju pengakuan berlangsung lambat. Novel pertamanya, Fanshawe, terbit anonim pada 1828 dan kemudian ia coba tarik dari peredaran karena dianggap tak mewakili mutu yang diinginkannya. Selama lebih dari satu dasawarsa, ia hidup relatif tertutup sambil menulis cerita untuk majalah dan terbitan tahunan.
Sebagian cerita itu kemudian dihimpun dalam Twice-Told Tales pada 1837. Judulnya secara harfiah berarti “kisah yang diceritakan dua kali”, sebab banyak isinya telah lebih dahulu muncul di majalah. Kumpulan ini mulai memperkenalkan ciri khas Hawthorne: hutan Puritan yang mengancam, simbol-simbol moral, rahasia pribadi, serta tokoh yang tak pernah sepenuhnya yakin apakah pengalaman mereka nyata, supernatural, atau lahir dari rasa bersalah sendiri.
Pada 1841, Hawthorne sempat bergabung dengan Brook Farm, sebuah eksperimen kehidupan komunal yang berupaya memadukan kerja fisik, pendidikan, dan cita-cita pembaruan sosial. Ia tak bertahan lama, dan pengalaman itu kelak menjadi bahan bagi The Blithedale Romance, yang menggambarkan bagaimana cita-cita luhur sebuah komunitas dapat dirusak oleh ego, kecemburuan, dan hasrat pribadi. Hawthorne tidak menolak gagasan reformasi, tetapi ia curiga terhadap keyakinan bahwa manusia dapat membangun masyarakat sempurna hanya dengan mengubah sistem; baginya, kesombongan dan ambisi kerap menyamar sebagai idealisme.
Pada 1842, ia menikahi Sophia Peabody dan tinggal di Old Manse, Concord, lingkungan yang menempatkannya dekat dengan tokoh-tokoh Transendentalisme seperti Ralph Waldo Emerson dan Henry David Thoreau. Namun Hawthorne tak pernah sepenuhnya berbagi optimisme mereka tentang kemampuan manusia mencapai kesempurnaan lewat intuisi dan pembaruan diri. Di tempat yang sama, ia menulis sejumlah cerita yang kemudian dihimpun dalam Mosses from an Old Manse.
Perbedaan itu membantu menjelaskan mengapa Hawthorne termasuk Romantisisme Gelap. Kaum Transendentalis cenderung mencari cahaya ilahi dalam alam dan diri manusia; Hawthorne melihat bahwa manusia turut membawa bayangan ke mana pun ia pergi. Alam bisa indah, tetapi hutan juga dapat menyembunyikan pertemuan terlarang seperti dalam Young Goodman Brown. Pengetahuan bisa membawa kemajuan, tetapi eksperimen untuk menyempurnakan manusia dapat berakhir sebagai kekejaman seperti dalam The Birth-Mark.
Hawthorne menyebut banyak karya panjangnya sebagai romansa, bukan novel. Dalam kata pengantar The House of the Seven Gables, ia menjelaskan bahwa novel dituntut mengikuti pengalaman manusia yang mungkin dan biasa secara lebih ketat, sedangkan romansa memiliki kebebasan untuk memperdalam bayangan, mencampur legenda dengan kenyataan, dan memakai unsur ajaib selama tetap setia pada “kebenaran hati manusia”.
Pembedaan itu penting bagi cara Hawthorne menulis. Ia tidak berupaya menciptakan realisme yang sepenuhnya objektif: sebuah rumah dapat seolah menyimpan dosa penghuninya, tanda lahir dapat menjadi lambang ketidaksempurnaan manusia, dan kerudung hitam dapat berubah menjadi dinding antara seorang pendeta dan seluruh masyarakat. Simbol-simbol itu tak harus punya satu arti tetap; justru kekuatannya lahir dari ketidakpastian.
Karier Hawthorne mencapai puncaknya setelah ia kehilangan pekerjaan sebagai pegawai Bea Cukai Salem akibat pergantian pemerintahan pada 1849. Pemberhentian itu menyakitinya secara pribadi dan politik, tetapi juga mengembalikannya ke pekerjaan sastra. Dalam The Custom-House, ia menggambarkan dirinya membuka kembali meja tulis yang lama menganggur dan menjadi seorang penulis lagi.
Hasilnya adalah The Scarlet Letter pada 1850. Novel itu mengisahkan Hester Prynne, perempuan yang dipaksa mengenakan huruf merah “A” setelah melahirkan anak di luar perkawinan. Namun pusatnya bukan sekadar perzinahan: Hawthorne mempertemukan tiga bentuk hubungan dengan dosa, Hester yang dipermalukan secara terbuka, Arthur Dimmesdale yang menyembunyikan kesalahannya, dan Roger Chillingworth yang mengubah penderitaan menjadi pembalasan.
Huruf “A” itu pun tak bermakna tetap. Semula ia berarti adulteress, tetapi seiring waktu masyarakat mulai membacanya sebagai able, bahkan sebagai sesuatu yang mendekati kesucian. Hawthorne memperlihatkan bahwa sebuah simbol dapat berubah ketika orang yang memakainya menolak ditentukan sepenuhnya oleh penghakiman orang lain.
Setahun kemudian terbit The House of the Seven Gables, yang lebih dekat lagi dengan bayang-bayang keluarganya sendiri. Sebuah keluarga terpandang hidup di bawah kutukan yang bermula dari perampasan tanah dan penghukuman terhadap seorang lelaki yang dituduh melakukan sihir. Kesalahan seorang leluhur berubah menjadi rumah, kekayaan, dan kehancuran psikologis yang diwariskan kepada keturunannya.
Dalam kata pengantarnya, Hawthorne terang-terangan menyatakan moral bahwa kesalahan satu generasi dapat hidup dalam generasi berikutnya. Namun ia juga memperingatkan bahwa sebuah cerita tak boleh ditusuk dengan pesan moral seperti kupu-kupu yang dipasang dengan jarum; moral harus hidup di dalam cerita, bukan berdiri di atasnya sambil berkhotbah.
Hubungan Hawthorne dengan Edgar Allan Poe menjadi salah satu pertemuan kritis paling menarik dalam sastra Amerika. Poe mengulas Twice-Told Tales dalam dua bagian pada 1842 dan membahas Hawthorne kembali pada 1847; ia memuji kemurnian gaya, kekuatan suasana, dan kecocokan nada dengan tema. Cerita-cerita Hawthorne bahkan membantu Poe merumuskan gagasannya bahwa sebuah cerita pendek harus bisa dibaca sekali duduk dan diarahkan menuju satu efek utama.
Namun kekaguman Poe tak pernah tanpa syarat. Ia menilai Hawthorne terlalu sering memakai alegori dan, dalam ulasan berikutnya, mempertanyakan sebagian orisinalitasnya sebab bagi Poe, alegori yang terlalu jelas mengganggu efek artistik: pembaca berhenti mengalami cerita dan mulai sibuk menerjemahkan pesan moralnya. Hawthorne menanggapi kritik itu dalam surat kepada Poe pada 17 Juni 1846, mengatakan bahwa ia membacanya dengan perhatian besar justru karena kritik itu terasa sungguh-sungguh, bukan pujian palsu.
Hubungan mereka karena itu bukan persahabatan dekat, bukan pula perseteruan. Poe memanfaatkan cerita Hawthorne untuk menjelaskan teori cerita pendeknya, sedangkan Hawthorne menghormati keseriusan Poe meski menolak sebagian penilaiannya. Keduanya mewakili dua jalan berbeda menuju kegelapan psikologis: Poe bertanya apa yang terjadi ketika pikiran tak lagi bisa mempercayai persepsinya sendiri, sementara Hawthorne bertanya apa yang terjadi ketika hati nurani tak dapat melepaskan diri dari sejarah, dosa, dan penghakiman masyarakat.
Pengaruh Hawthorne paling jelas terlihat pada Herman Melville. Keduanya bertemu pada 1850 dan segera menjalin persahabatan intelektual yang kuat; dalam esai Hawthorne and His Mosses, Melville memuji “kekuatan kegelapan” Hawthorne, kemampuannya menyembunyikan gagasan tentang kerusakan manusia di balik permukaan cerita yang tenang dan indah. Pertemuan itu terjadi ketika Melville sedang mengerjakan Moby-Dick, dan ketika novel itu terbit pada 1851, ia mempersembahkannya kepada Hawthorne sebagai tanda kekaguman.
Kehidupan Hawthorne tetap terikat pada politik. Ia menulis biografi kampanye bagi sahabat lamanya, Franklin Pierce, pada 1852, dan setelah Pierce menjadi presiden, ia diangkat sebagai konsul Amerika Serikat di Liverpool. Ia dan keluarganya tinggal di Inggris lalu menempuh perjalanan panjang di Eropa sebelum kembali ke Concord pada 1860; pengalaman di Italia menghasilkan novel terakhirnya yang selesai, The Marble Faun. Kesehatannya memburuk pada tahun-tahun berikutnya, dan ia meninggal dalam tidurnya pada 19 Mei 1864 saat melakukan perjalanan ke New Hampshire bersama Pierce. Ia dimakamkan di Sleepy Hollow Cemetery, Concord, tak jauh dari sejumlah tokoh sastra New England lainnya.
Warisan Hawthorne mengalir luas ke dalam sastra Gotik dan psikologis Amerika. Ia menunjukkan bahwa sebuah cerita tak membutuhkan hantu yang benar-benar muncul untuk terasa berhantu, cukup ada masa lalu yang tak terselesaikan, masyarakat yang gemar menghakimi, atau rahasia yang perlahan mengubah cara seseorang memandang dirinya. Sebagian melalui The Scarlet Letter, ia kerap disebut sebagai salah satu pelopor novel psikologis Amerika: kehidupan batin tak lagi hanya dijelaskan secara langsung, melainkan diungkapkan lewat benda, suasana, tatapan, rahasia, dan simbol yang maknanya tak pernah sepenuhnya selesai.
Warisan Nathaniel Hawthorne tidak hanya berada pada huruf merah, rumah tua, hutan Puritan, atau kerudung hitam. Ia memperkenalkan suatu cara memandang sejarah: masa lalu tidak pernah sepenuhnya berlalu, ia bersembunyi dalam lembaga, keluarga, bahasa, kekayaan, dan rasa malu yang diwariskan tanpa diminta. John Hathorne pernah turut menghakimi orang-orang yang dituduh sebagai penyihir; lebih dari satu abad kemudian, keturunannya menambahkan satu huruf pada nama keluarga dan menghabiskan hidupnya menulis tentang bahaya penghakiman. Perubahan itu mungkin tak dapat menghapus sejarah, tetapi Hawthorne mengubah noda keluarganya menjadi pertanyaan sastra yang jauh lebih luas: dapatkah manusia menebus dosa yang tidak ia lakukan sendiri, tetapi yang akibatnya masih menghidupi dunia tempat ia berdiri?
Jika Poe membangun horor dari pikiran yang retak, Hawthorne membangunnya dari hati nurani yang tak bisa melupakan. Poe memperlihatkan bahwa manusia dapat dikalahkan oleh persepsinya sendiri; Hawthorne menunjukkan bahwa sebuah keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dapat dihantui oleh sejarah yang sengaja mereka kubur.

Komentar
Posting Komentar