Lewati ke konten
NTHL.me

Biografi Singkat Jane Austen

Jane Austen (16 Desember 1775 - 18 Juli 1817) adalah novelis Inggris yang dikenal melalui ironi sosial, pengamatan psikologis, dan penggambaran tajam kehidupan masyarakat pedesaan pada masa Georgia dan Regency. Dunia ceritanya banyak dihuni keluarga gentry, pendeta, perwira, pemilik tanah, serta perempuan yang kedudukan sosial dan ekonominya sangat bergantung pada keluarga maupun perkawinan.

Lukisan Jane Austen 1810. Sumber Gambar
Karya-karyanya yang paling terkenal meliputi Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, dan Emma. Dua novel lainnya, Northanger Abbey dan Persuasion, diterbitkan setelah kematiannya. Semasa hidup, karya-karya Austen diterbitkan tanpa mencantumkan namanya secara terbuka; identitasnya sebagai pengarang baru diumumkan melalui catatan biografis yang menyertai penerbitan karya anumertanya.

Sekilas, novel-novel Austen tampak berpusat pada percakapan, kunjungan keluarga, pesta dansa, reputasi, dan urusan perkawinan. Namun, perkawinan dalam dunianya bukan sekadar tujuan romantis. Bagi banyak perempuan pada masa itu, perkawinan berkaitan langsung dengan tempat tinggal, keamanan ekonomi, status sosial, dan perlindungan dari kemiskinan. Melalui persoalan yang tampak domestik tersebut, Austen membahas kekuasaan, uang, pendidikan, ketergantungan perempuan, tanggung jawab keluarga, dan ketimpangan kelas.

Kekuatan Austen juga terletak pada cara penceritaannya. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan teknik yang kemudian disebut free indirect discourse atau wacana tidak langsung bebas. Melalui teknik ini, suara narator dapat bercampur dengan pikiran dan penilaian tokoh tanpa selalu diperkenalkan dengan kalimat seperti “ia berpikir”. Pembaca dapat memasuki kesadaran tokoh sekaligus melihat kesalahan, kesombongan, atau prasangka yang tidak disadari oleh tokoh tersebut.

Meskipun kemudian memperoleh kedudukan penting dalam sastra Inggris, Austen tidak disukai oleh semua penulis besar. Salah satu penentangnya yang paling vokal adalah Mark Twain. Keduanya tidak pernah hidup sezaman, Austen meninggal delapan belas tahun sebelum Twain lahir tetapi Twain berkali-kali menjadikan novel-novel Austen sebagai sasaran kritik dan lelucon.

Salah satu sindirannya yang paling terkenal berasal dari surat pribadi Twain kepada sahabatnya, Joseph H. Twichell, pada 13 September 1898. Dalam surat tersebut, Twain sedang membicarakan ketidakmampuannya menjadi kritikus yang tenang dan objektif. Ia mengaku hanya terdorong mengkritik buku yang tidak disukainya, sementara karya-karya Austen membuatnya begitu jengkel sehingga ia tidak dapat menyembunyikan kegilaannya sendiri sebagai pembaca.

Twain kemudian menulis:

"Setiap kali membaca Pride and Prejudice, aku ingin menggali Austen dari kuburnya dan menghantam tengkoraknya dengan tulang keringnya sendiri."

Kalimat tersebut tidak muncul secara lengkap ketika sebagian surat Twain diterbitkan dalam kumpulan Mark Twain’s Letters pada 1917. Bagian mengenai tulang kering baru dipublikasikan secara terbuka oleh kritikus Brander Matthews dalam artikel Mark Twain and the Art of Writing di Harper’s Magazine pada 1920. Dengan demikian, kutipan itu bukan sindiran modern yang keliru dikaitkan dengan Twain, melainkan berasal dari suratnya sendiri, meskipun baru diketahui pembaca umum setelah kematiannya.

Ucapan tersebut terdengar kejam, tetapi bentuknya sengaja hiperbolis dan sangat sesuai dengan persona komedi Twain. Ketidaksukaannya terhadap Austen tampaknya memang nyata, tetapi ia mengungkapkannya melalui gambaran berlebihan yang dirancang untuk mengejutkan sekaligus menghibur. Serangannya juga memiliki unsur perdebatan persahabatan, sebab William Dean Howells, sahabat dekat Twain, merupakan pengagum berat karya-karya Austen.

Benturan Twain dan Austen sering dipahami sebagai perbedaan antara dua tradisi sastra. Twain dekat dengan bahasa vernakular, perjalanan, masyarakat perbatasan, konflik rasial, dan ruang Amerika yang luas. Austen bergerak dalam lingkungan yang lebih terkendali: rumah keluarga, ruang tamu, surat, warisan, percakapan, dan aturan kesopanan Inggris. Bagi selera Twain, dunia tersebut mungkin terasa sempit dan terlalu tertata.

Namun, kesempitan ruang tidak berarti kesempitan tema. Austen menggunakan lingkungan domestik untuk menunjukkan bagaimana uang, gender, kelas, reputasi, dan hak waris menentukan kehidupan manusia. Konfliknya mungkin tidak berlangsung di medan perang atau sungai besar, tetapi konsekuensinya tetap nyata: kehilangan rumah, ketergantungan ekonomi, pernikahan tanpa cinta, dan masa depan yang ditentukan oleh kedudukan sosial.

Ironisnya, Twain dan Austen sebenarnya memiliki kesamaan mendasar. Keduanya menggunakan humor untuk membongkar kemunafikan masyarakat. Twain bekerja melalui dialek, pembualan, kekacauan, dan serangan terbuka. Austen bekerja melalui kesopanan, percakapan, dan ironi yang begitu halus sehingga tokoh-tokohnya sering tidak menyadari bahwa mereka sedang mempermalukan diri sendiri.

Karena itu, serangan Twain tidak memudarkan reputasi Austen. Sebaliknya, permusuhan sastranya menjadi bagian menarik dari sejarah penerimaan karya Austen. Seorang penulis dapat membenci cara penulis lain bekerja, tetapi tetap tidak mampu berhenti membaca, membicarakan, dan memikirkannya.

Twain membawa pisaunya ke jalan raya dan mengacungkannya sambil tertawa; Austen menyembunyikannya di balik tata krama ruang tamu. Keduanya tetap menuju sasaran yang serupa: manusia yang terlalu yakin pada kedudukan, kesopanan, dan kebajikannya sendiri.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar