Lewati ke konten
NTHL.me

Biografi Singkat Harlan Ellison

Potret Ellison tahun 1986
Potret Ellison tahun 1986. Sumber gambar

Harlan Jay Ellison (27 Mei 1934 - 28 Juni 2018) adalah salah satu suara paling keras dan paling berisik dalam fiksi spekulatif Amerika. Ia bukan peramal teknologi dan tak pernah ingin menjadi satu; kekuatan terbaiknya justru muncul ketika ia mengambil sesuatu yang sudah ada, komputer, televisi, kota, jam, perang, birokrasi, kemarahan lalu mendorongnya sampai topeng peradaban mulai retak. Ia lahir di Cleveland, Ohio, dalam keluarga Yahudi Amerika, dan masa kecilnya tidak selalu tenang: perundungan dan antisemitisme menanamkan perasaan sebagai orang luar yang kelak berulang kali muncul dalam hidup maupun tulisannya. Sebagai remaja ia beberapa kali kabur dari rumah, bekerja serabutan, dan sejak muda terlibat dengan komunitas penggemar fiksi ilmiah di Cleveland. Baginya, kehidupan di luar ruang kelas adalah bagian penting dari pendidikan seorang penulis: manusia yang ditemuinya, kota yang dilaluinya, dan kekerasan yang disaksikannya menyediakan bahan yang tak selalu ada dalam buku.

Ellison sempat kuliah di Ohio State University, tetapi masa kuliahnya berakhir setelah bentrok dengan seorang pengajar penulisan. Pada pertengahan 1950-an ia pindah ke New York dan mengejar kehidupan sebagai penulis profesional, menjual cerita ke berbagai majalah dengan kecepatan luar biasa. Pada akhir 1958 saja ia telah menghasilkan lebih dari seratus lima puluh cerita dan tulisan dalam beragam genre. Fiksi ilmiah hanya salah satunya; ia juga menulis kriminal, western, kisah kehidupan kota, dan cerita untuk majalah pria, sebagian di bawah nama samaran.

Salah satu pengalaman paling ganjil dari masa itu terjadi ketika Ellison memakai identitas palsu dan selama sekitar sepuluh minggu mengikuti kehidupan sebuah geng jalanan di Red Hook, Brooklyn. Pengalaman itu menjadi bahan novel pertamanya, Rumble (1958) yang kelak diterbitkan ulang sebagai Web of the City beserta karya autobiografis Memos from Purgatory. Jauh sebelum dikenal lewat komputer sadis dan dunia pasca-apokaliptik, Ellison sudah tertarik pada manusia di pinggir masyarakat, kekerasan perkotaan, kemiskinan, dan tekanan kelompok terhadap individu.

Setelah menjalani dinas militer, Ellison bekerja di penerbitan di Chicago sebelum menetap di Los Angeles pada 1962. Di sana ia menemukan industri yang kelak menjadi sumber penghasilan sekaligus permusuhan selama puluhan tahun: televisi. Ia menulis untuk serial seperti The Alfred Hitchcock Hour, Burke's Law, The Man from U.N.C.L.E., dan The Outer Limits. Naskah Demon with a Glass Hand untuk The Outer Limits memenangkan penghargaan Writers Guild of America dan memperlihatkan salah satu kekuatannya sebagai penulis layar: kemampuan memampatkan gagasan besar ke dalam ruang sempit sebuah episode.

Namun televisi juga mempertemukannya dengan persoalan yang terus menghantuinya: siapa pemilik sebuah cerita setelah penulis menyerahkannya kepada industri? Perselisihan paling terkenal terjadi pada Star Trek. Ellison menulis The City on the Edge of Forever, sebuah kisah perjalanan waktu yang menempatkan Kapten Kirk dalam pilihan antara cinta pribadi dan sejarah dunia. Naskahnya mengalami perubahan besar sebelum diproduksi, dan ia tak pernah menerimanya dengan tenang. Ironisnya, kedua versi memperoleh pengakuan: versi yang tayang memenangkan Hugo Award, sedangkan naskah asli Ellison memenangkan penghargaan Writers Guild. Puluhan tahun kemudian ia masih menulis tentang pertentangan itu dan menerbitkan versi naskahnya sendiri.

Bagi Ellison, pertengkaran itu bukan sekadar soal ego. Salah satu prinsip yang terus ia pegang adalah bahwa penulis harus dibayar, diberi kredit, dan memiliki hak atas karyanya. Sikap itu membawanya ke berbagai sengketa hak cipta. Ketika ia menilai The Terminator memakai unsur dari karya televisinya, penyelesaian perkaranya menghasilkan pencantuman pengakuan atas karya Harlan Ellison pada distribusi tertentu film itu. Ia juga berperkara soal penyebaran tulisannya tanpa izin di internet. Agen sastranya merangkum pendiriannya dengan sederhana: “Pay the writer.”

Tetapi karya yang benar-benar menjadikannya salah satu suara utama fiksi spekulatif Amerika lahir terutama dalam bentuk cerita pendek. “Repent, Harlequin!” Said the Ticktockman (1965) menggambarkan masyarakat yang menjadikan ketepatan waktu sebagai alat kekuasaan, dengan seorang pemberontak absurd yang mengganggu keteraturan sistem. Dalam dunia Ellison, penindasan tak selalu datang sebagai diktator berwajah jahat; ia bisa bersembunyi di balik efisiensi, jadwal, kebiasaan, dan kesepakatan diam-diam bahwa ketertiban lebih berharga daripada kebebasan.

Ellison tak memisahkan kegelisahan politik itu dari kehidupan nyata. Pada 1965 ia terlibat dalam gerakan hak-hak sipil dan ikut dalam rangkaian pawai Selma-Montgomery bersama para demonstran yang memperjuangkan hak pilih warga Afrika-Amerika. Ia menulis esai politik, berbicara di kampus-kampus, dan mempertahankan citra penulis yang tak puas hanya mengamati masyarakat dari meja kerja.

Pada 1967 muncul karya yang mungkin menjadi ungkapan paling murni dari pesimisme Ellison terhadap teknologi: I Have No Mouth, and I Must Scream. Dalam cerita itu, sebuah superkomputer militer bernama AM memperoleh kesadaran, memusnahkan hampir seluruh umat manusia, lalu mempertahankan lima orang terakhir tetap hidup untuk disiksa tanpa akhir. AM bukan sekadar komputer yang rusak: ia kecerdasan yang memiliki hampir segala kemampuan kecuali kebebasan dari keberadaannya sendiri, dan kebenciannya terhadap manusia adalah bayangan dari manusia yang menciptakannya untuk perang. Cerita ini memenangkan Hugo Award pada 1968 dan menjadi salah satu karyanya yang paling bertahan.

Di sinilah pertanyaan khas Ellison mulai terlihat. Banyak penulis fiksi ilmiah bertanya bagaimana teknologi akan mengubah hidup manusia; Ellison lebih sering membaliknya. Bagaimana jika teknologi yang kita ciptakan justru mewarisi hal terburuk dari manusia yang menciptakannya? Mesin bukan ancaman karena ia asing, melainkan karena ia terlalu mirip dengan kita.

Namun kontribusi terbesarnya terhadap genre ini mungkin justru datang ketika ia tidak sedang menulis ceritanya sendiri. Pada tahun yang sama, Ellison menyunting Dangerous Visions (1967), antologi besar berisi tiga puluh tiga karya orisinal. Ia mendorong para kontributor mengirim cerita yang dianggap terlalu berbahaya, terlalu seksual, terlalu politis, terlalu eksperimental, atau sulit terbit lewat pasar fiksi ilmiah yang lebih konservatif. Buku itu menjadi salah satu simbol pergeseran fiksi ilmiah Amerika menuju sensibilitas yang biasa dikaitkan dengan New Wave; panitia Worldcon 1968 memberinya penghargaan khusus dan menyebutnya salah satu buku fiksi ilmiah paling signifikan sekaligus kontroversial pada 1967. Peran Ellison di sini bukan sekadar penjaga pintu, melainkan orang yang sengaja membuka pintunya terlalu lebar.

Ia mengulanginya lewat Again, Dangerous Visions (1972). Antologi-antologi itu membantu menunjukkan bahwa fiksi ilmiah tak harus selalu berkisah tentang kapal luar angkasa, robot, dan penemuan teknologi. Seksualitas, politik, perang, ras, psikologi, eksperimen bentuk, dan ketidaknyamanan manusia sezaman pun bisa menjadi pusat cerita spekulatif. Ellison sendiri bahkan tak menyukai label science-fiction writer; ia lebih suka istilah yang lebih luas seperti imaginative fiction atau contemporary fantasy, karena baginya pembatas genre terlalu sempit untuk jenis tulisan yang ia kerjakan.

Keberhasilan itu juga melahirkan salah satu ironi terbesar dalam kariernya. Ellison mengumumkan volume ketiga, The Last Dangerous Visions, pada 1973. Proyek itu membengkak, tertunda demi tertunda, dan tak pernah terbit selama hidupnya. Sejumlah penulis menyerahkan karya selama bertahun-tahun tanpa pernah melihatnya menjadi buku, sehingga proyek yang semula dimaksudkan sebagai pembebasan kreatif justru berubah menjadi salah satu kontroversi editorial terpanjang dalam sejarah fiksi ilmiah. Setelah Ellison meninggal, J. Michael Straczynski mengambil alih penyelesaiannya, dan The Last Dangerous Visions akhirnya terbit pada 1 Oktober 2024 setelah lebih dari setengah abad setelah pertama diumumkan. Paradoks itu sangat sesuai dengan Ellison: ambisi yang membuatnya berhasil kadang juga menjadi sesuatu yang tak dapat ia kendalikan.

Sepanjang kariernya ia terus menulis karya seperti A Boy and His Dog, The Deathbird, Jeffty Is Five, dan The Beast that Shouted Love at the Heart of the World, sementara esainya merambah televisi, politik, budaya populer, dan kehidupan penulis. Ia meraih berbagai Hugo, Nebula, Bram Stoker, dan Edgar Award serta penghargaan Writers Guild, dan Science Fiction and Fantasy Writers of America kemudian menganugerahinya gelar Grand Master. Namun jumlah penghargaan itu tak pernah menjadi bagian yang paling mudah diingat dari sosoknya.

Sebab Ellison membangun persona publik yang sama garangnya dengan prosanya. Sebagian reputasi itu lahir dari perjuangan yang masuk akal: ia marah kepada penerbit yang melanggar kontrak, perusahaan yang tak membayar penulis, sensor, diskriminasi, dan orang yang memakai karya tanpa izin bahkan terkenal mengirim benda-benda absurd atau menjadikan pertikaian profesional sebagai pertunjukan publik. Tetapi sifat konfrontatif yang sama tak selalu bisa dibela sebagai keberanian. Dalam Hugo Awards 2006, tindakannya terhadap penulis Connie Willis di atas panggung menuai kecaman luas. Memandang Ellison hanya sebagai “orang kasar yang selalu benar” akan sama tidak jujurnya dengan menganggap seluruh kemarahannya tanpa prinsip.

Itulah salah satu kesulitan menulis tentang Harlan Ellison: karakter publiknya begitu besar sehingga bisa menelan karya-karyanya sendiri. Ia bisa murah hati kepada penulis muda sekaligus luar biasa pendendam kepada orang yang dianggap merugikannya; bisa memperjuangkan hak sipil dan hak penulis sekaligus melakukan hal yang menyakiti orang lain. Kemarahannya adalah sumber energi artistik, tetapi bukan pembenaran otomatis bagi semua perilakunya.

Ellison juga tumbuh dari dunia yang sudah sangat berbeda dari dunia para perintis fiksi ilmiah dan horor. Ketika ia mulai menulis, Holocaust telah terjadi, senjata atom telah digunakan, Perang Dingin sedang berlangsung, televisi telah menjadi industri massal, komputer mulai bermunculan, gerakan hak sipil mengguncang Amerika, dan perang modern bisa disaksikan hampir langsung lewat layar. Ia tidak menulis untuk membayangkan masa depan yang jauh; sebagian besar mimpi buruknya sudah ada di sekitarnya.

Harlan Ellison meninggal dalam tidurnya di rumahnya di Los Angeles pada 28 Juni 2018, dalam usia delapan puluh empat tahun. Ia meninggalkan cerita pendek, esai, naskah televisi, antologi, polemik, persahabatan, permusuhan, dan proyek yang bahkan belum selesai saat ia wafat. Science Fiction and Fantasy Writers of America mengenangnya sebagai salah satu kepribadian terkuat dalam bidang itu, dan sebagai penulis serta editor yang meninggalkan pengaruh permanen pada fiksi spekulatif.

Warisan Ellison karena itu tidak terletak pada kemampuannya melihat masa depan dengan tepat. Ia bukan peramal teknologi dan tak pernah membutuhkan posisi itu. Kekuatan terbaiknya muncul ketika ia mengambil sesuatu yang sudah ada, komputer, televisi, kota, jam, perang, birokrasi, kemarahan lalu mendorongnya sampai topeng peradaban mulai retak. Ia menjadikan masa kini sebuah ruang interogasi. Dan jika jawabannya membuat manusia terlihat buruk, Ellison jarang merasa berkewajiban untuk berbicara lebih pelan.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar