Lewati ke konten
NTHL.me

Biografi Singkat Emma Hardinge Britten

Emma Hardinge Britten (2 Mei 1823 - 2 Oktober 1899) adalah salah satu tokoh terpenting dalam pembentukan Spiritualisme modern abad ke-19. Selama lebih dari empat dekade ia bekerja sebagai medium, pembicara, penulis, editor, aktivis sosial, dan organisator, dan lewat ceramah serta tulisannya ia membantu mengubah Spiritualisme dari sekumpulan fenomena paranormal dan kelompok lokal menjadi sebuah gerakan dengan sejarah, filsafat, pers, dan organisasinya sendiri. Namun kisahnya juga memperlihatkan sesuatu yang lebih luas. Bagaimana, dalam masyarakat Victoria yang hampir menutup mimbar keagamaan dan politik bagi perempuan, mediumship justru dapat menjadi jalan tak biasa menuju panggung publik.

Potret Emma Britten di tahun 1860-an
Potret Emma Britten di tahun 1860-an. Sumber gambar

Ia lahir sebagai Emma Floyd di Bethnal Green, dekat London. Ayahnya meninggal ketika Emma berusia sekitar sebelas tahun, keadaan ekonomi keluarga memburuk, dan Emma mulai memakai kemampuan musiknya untuk mengajar, bernyanyi, bermain piano dan untuk membantu menghidupi ibu dan saudara-saudaranya sebelum menjalani karier di dunia pertunjukan. Sekitar 1842 ia tampil di Adelphi Theatre, London, dengan nama Emma Harding, dan terlibat dalam berbagai produksi panggung selama tahun-tahun berikutnya. Asal-usul nama “Hardinge” yang kemudian melekat padanya tak sepenuhnya jelas, tetapi tampaknya sudah ia pakai sebagai nama profesional sebelum ia terkenal sebagai Spiritualis. Menurut autobiografinya, pada masa mudanya ia juga pernah berhubungan dengan sebuah kelompok okultis rahasia di London yang dikenal sebagai Orphic Circle, yang dikisahkan bereksperimen dengan magnetisme, somnambulisme, dan clairvoyance meski karena hampir seluruh informasinya berasal dari kesaksian Britten sendiri, kisah itu lebih aman disebut sebagai ceritera sudut pandangnya.

Pengalaman sebagai pemain panggung ternyata sangat berguna bagi kehidupannya kelak sebagai Spiritualis. Ia terbiasa menghadapi penonton, berbicara di ruang publik, mengatur ritme suara, dan mempertahankan perhatian khalayak dan dalam masyarakat Victoria yang masih membatasi perempuan di ruang politik dan keagamaan, mediumship serta trance lecture memberinya jalan yang tak biasa menuju mimbar publik, menjangkau audiens dari berbagai kelas sekaligus menjadikan Spiritualisme sebagai tontonan, ceramah, dan ajaran.

Pada 1855 Emma berangkat bersama ibunya ke New York setelah memperoleh pekerjaan di dunia teater Amerika, tetapi karier panggungnya di sana tak berlangsung lama. Amerika saat itu sedang mengalami ledakan minat terhadap Modern Spiritualism, gerakan yang berkembang sejak fenomena Fox Sisters di New York pada akhir 1840-an antara lain séance, komunikasi dengan arwah, serta berbagai bentuk mediumship menjadi bagian dari kehidupan religius sekaligus budaya populer. Britten bergabung dengan lingkungan Spiritualis New York dan mulai dikenal sebagai medium. Ia menarik perhatian luas ketika mengumumkan bahwa kapal uap pos Pacific telah hilang di Atlantik dengan seluruh penumpangnya, sebuah kabar yang ia katakan berasal dari seorang awak yang tenggelam, sebuah pengumuman yang sempat memancing ancaman tuntutan hukum sebelum kapal itu memang tak pernah terdengar lagi. Dalam waktu singkat pusat kehidupannya berpindah dari panggung teater menuju podium ceramah. Ia menjadi trance lecturer, pembicara yang mengaku menyampaikan ceramah dalam keadaan kesadaran yang berubah, dan berkeliling Amerika berbicara tentang kehidupan setelah kematian, moralitas, dan apa yang dianggapnya hukum alam di balik fenomena Spiritualis.

Penting dipahami bahwa Spiritualisme pada masa Britten bukan semata kepercayaan pada hantu. Banyak penganutnya menganggap fenomena medium sebagai bukti empiris bahwa kesadaran manusia tetap hidup setelah kematian, dan Britten sendiri berusaha menjelaskannya lewat bahasa “hukum alam” dan bahkan sains. Baginya, agama dan ilmu pengetahuan tak semestinya menjadi lawan. Jika kehidupan setelah kematian benar-benar ada, ia percaya keberadaannya pada akhirnya dapat dipelajari sebagai bagian dari alam.

Gerakan Spiritualis Amerika juga berhubungan erat dengan berbagai gerakan reformasi abad ke-19, antiperbudakan, hak perempuan, reformasi pendidikan, kritik terhadap otoritas gereja dan Britten memakai ceramahnya untuk berbicara tentang persoalan sosial selain dunia roh. Pada 1859 ia menyampaikan ceramah The Place and Mission of Woman di Boston, mempertanyakan mengapa pendidikan dan berbagai profesi harus dibatasi bagi perempuan, meski posisinya tak selalu identik dengan feminisme paling radikal zamannya dan ia menentang sebagian kelompok Free Love yang juga beredar di lingkungan reformis. Sikap antiperbudakannya kian terlihat menjelang dan selama Perang Saudara. Ia berceramah tentang perbudakan bahkan di negara-negara bagian Selatan, dan pada pemilihan 1864 ia terbuka mendukung kubu Union serta berkampanye untuk terpilihnya kembali Abraham Lincoln, seorang perempuan kelahiran Inggris yang bahkan tak punya hak suara memasuki ruang politik Amerika yang hampir sepenuhnya dikuasai laki-laki. Setelah Lincoln dibunuh pada April 1865, ia diminta menyampaikan orasi mengenangnya pada 16 April, sehari setelah kematian Lincoln diumumkan, ia berbicara di hadapan ribuan orang di Cooper Institute, New York, dalam orasi yang kemudian diterbitkan dan menghubungkan warisan Lincoln dengan penghapusan perbudakan. Ia telah bergerak jauh melampaui peran seorang medium séance menjadi seorang orator publik.

Pada 1865 Britten kembali ke Inggris membawa bentuk Spiritualisme yang telah berkembang pesat di Amerika, dan menjadi salah satu propagandis paling aktif gerakan itu meski sebagian pers Inggris mengejek gaya bicara dan klaim supernaturalnya. Ia tak hanya menjelaskan cara melakukan séance, tetapi mulai menyusun aturan dan filosofi bagi gerakan. Pada 1868 ia menerbitkan Rules for the Formation and Conduct of Spirit Circles serta What Is Spiritualism?, karya praktis yang menjelaskan bagaimana kelompok Spiritualis sebaiknya mengadakan pertemuan, dan teksnya tentang pembentukan spirit circles menjadi salah satu tulisannya yang paling luas dicetak ulang. Pada 1870 ia menerbitkan karya monumentalnya, Modern American Spiritualism, sebuah catatan setebal lebih dari lima ratus halaman tentang sejarah gerakan Spiritualis Amerika sejak kemunculannya. Buku itu tak boleh diperlakukan sebagai sejarah netral dalam pengertian akademis modern. Britten adalah peserta sekaligus pembela gerakan yang ia tulis tetapi justru karena itu ia menjadi sumber primer yang sangat berharga, memperlihatkan bagaimana generasi pertama Spiritualis memahami sejarah mereka sendiri. Pada tahun yang sama Emma menikahi William Godwin Britten, seorang sesama Spiritualis, dan sejak itu dikenal sebagai Emma Hardinge Britten.

Pada awal 1870-an pemikiran Britten kian bergerak menuju okultisme yang lebih luas. Pada 1872 ia menerbitkan jurnal The Western Star di Boston, yang hanya bertahan beberapa nomor dan terganggu oleh kebakaran besar Boston tahun itu. Lalu, pada 1875 di New York, Britten dan suaminya termasuk di antara mereka yang hadir di rumah Helena Petrovna Blavatsky pada malam berdirinya Theosophical Society, Britten menjadi anggota awal dan terpilih sebagai salah satu anggota dewan pertamanya. Namun persekutuan itu tak berumur panjang. Persaingan antara kedua perempuan berpengaruh ini dengan cepat meretakkan hubungan mereka, dan keluarga Britten pun meninggalkan Teosofi dan kembali memusatkan diri pada Spiritualisme. Perselisihan itu bahkan mengeras. Belakangan Britten sampai ikut menyebarkan tudingan bahwa Isis Unveiled, karya besar Blavatsky, sebenarnya ditulis orang lain dan hubungan itu memperlihatkan bahwa batas antara Spiritualisme dan Teosofi pada masa itu belum benar-benar tegas, dua gerakan yang tumbuh dari akar yang sama sebelum bercabang.

Pada 1876 muncul dua karya misterius, Art Magic dan Ghost Land, yang Britten nyatakan hanya ia sunting, terjemahkan, atau susun dari seorang penulis anonim yang ia sebut sebagai seorang Adept bernama Chevalier Louis. Identitas penulis sebenarnya masih diperdebatkan. Sejumlah peneliti modern menduga Britten sendiri mungkin berperan jauh lebih besar daripada yang ia akui, bahkan mungkin penulis utamanya. Yang menarik, kedua buku itu yang termasuk karya pertama yang diterbitkan seorang pendiri Teosofi, menyentuh tema yang tak lama kemudian muncul jauh lebih terperinci dalam Isis Unveiled Blavatsky, sehingga ikut memanaskan persaingan di antara keduanya. Lebih aman menempatkan Art Magic dan Ghost Land sebagai tulisan yang sangat erat berhubungan dengan Britten tetapi berkepengarangan yang disengketakan.

Pada akhir 1870-an Emma dan William melakukan perjalanan besar. Setelah melintasi Amerika hingga California, mereka menuju Australia dan Selandia Baru pada 1878-1879 sebagai misionaris Spiritualis. Perjalanan ini memperlihatkan bahwa Spiritualisme telah menjadi gerakan internasional yang mengikuti jaringan transportasi dan komunikasi Kekaisaran Inggris, gagasan yang berkembang di New York dan London dapat bergerak lewat kapal, surat kabar, dan tur ceramah menuju Melbourne, Sydney, dan Dunedin. Britten pun tak menghindari politik lokal. Pada Australia ia berbicara tentang persoalan buruh Tionghoa, dan di Selandia Baru ia terlibat perdebatan mengenai penggunaan Alkitab di sekolah. Pandangan yang tetap produk abad ke-19 dan tak selalu selaras dengan nilai masa kini, tetapi memperlihatkan bahwa ia memandang Spiritualisme sebagai filsafat sosial yang harus berhubungan dengan persoalan nyata.

Sepulangnya, ia menyusun karya sejarah besar keduanya, Nineteenth Century Miracles (1883-1884), yang mencoba menggambarkan Spiritualisme sebagai fenomena internasional dan bersama Modern American Spiritualism menjadikannya bukan sekadar propagandis, melainkan sejarawan internal gerakan itu, meski catatannya harus dibaca bersama sumber independen karena ia tak berpura-pura netral. Fase terakhir sekaligus salah satu yang paling berpengaruh dalam hidupnya datang setelah ia menetap di Manchester. Pada November 1887 ia menjadi editor pendiri The Two Worlds, sebuah surat kabar mingguan yang ia pimpin hingga 1892. Tanpa gereja pusat, kitab tunggal, atau hierarki internasional, pers seperti The Two Worlds memungkinkan kelompok-kelompok lokal saling mengetahui kegiatan, memperdebatkan ajaran, dan membangun identitas bersama dan Britten memakainya untuk memperjuangkan gagasan bahwa kelompok Spiritualis Inggris sebaiknya membentuk organisasi nasional. Usahanya membantu melahirkan sebuah konferensi di Manchester pada Juli 1890 yang membentuk Spiritualists’ National Federation, yang kelak menjadi Spiritualists’ National Union. Salah satu warisan terbesarnya, dengan demikian, bukanlah fenomena paranormal tertentu, melainkan sesuatu yang jauh lebih administratif: ia memberi struktur kelembagaan kepada komunitas yang sebelumnya sangat terfragmentasi.

Britten juga berperan dalam prinsip ajaran yang kelak diasosiasikan dengan Spiritualists’ National Union. Dalam sebuah ceramah di London pada 1871 ia mengutarakan serangkaian prinsip tentang kebapaan Tuhan, persaudaraan manusia, kelangsungan jiwa, tanggung jawab pribadi, dan kemajuan spiritual, yang berkembang menjadi dasar dari apa yang kini dikenal sebagai Seven Principles of Spiritualism. Tradisi Spiritualis menceritakan prinsip-prinsip itu diberikan melalui mediumship Britten oleh roh reformis sosial Robert Owen sebagai pernyataan sejarah, yang dapat dipastikan adalah bahwa ajaran itu memang diasosiasikan dengan ceramah dan mediumship Britten, sedangkan asal supernaturalnya merupakan soal keyakinan yang tak dapat diverifikasi dengan metode sejarah.

William Britten meninggal pada 1894, dan Emma tetap aktif menulis dan berceramah sebelum wafat di Manchester pada 2 Oktober 1899. Setahun kemudian saudara perempuannya menerbitkan manuskrip autobiografi yang ia tinggalkan, sumber penting yang tetap harus dipakai dengan hati-hati, sebab Britten kadang mengatur dan memilih bagaimana bagian-bagian hidupnya diceritakan. Ia sering dikenang sebagai medium, tetapi sebutan itu hanya menjelaskan sebagian kecil hidupnya. Ia memulai sebagai anak yang harus menghidupi keluarganya lewat musik, menjadi aktris, menyeberangi Atlantik, mengubah diri menjadi orator terkenal, memasuki politik Amerika, menulis sejarah gerakannya sendiri, menjelajahi tiga benua, mengelola media, dan membantu membangun organisasi keagamaan yang bertahan sesudahnya. Warisannya karena itu bukan sekadar pertanyaan apakah roh yang ia klaim berbicara melaluinya benar-benar ada. Secara historis, sesuatu yang lebih mudah dibuktikan telah terjadi, orang-orang mendengarkannya, mencetak pidatonya, dan membangun organisasi berdasarkan gagasannya. Dan dunia séance serta trance yang ia bangun itu, satu generasi kemudian, akan menjadi bahan penyelidikan seorang psikiater muda bernama Carl Jung yang alih-alih bertanya apakah arwah benar-benar berbicara, bertanya apa yang sedang terjadi di dalam jiwa sang medium.

Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar