Ringkasan Cerita Frau Holle
Isi Tulisan
![]() |
| Frau Holle & gadis rajin. Sumber Gambar |
Seorang janda memiliki dua anak perempuan: yang satu cantik dan rajin, yang lain jelek dan malas. Tapi anehnya, sang janda lebih menyayangi si anak malas karena itu anak kandungnya sendiri, sementara si anak rajin adalah anak tiri yang dipaksa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Setiap hari ia duduk di dekat sumur dan memintal benang sampai jari-jarinya berdarah.
Suatu hari, alat pintalnya terkena darah. Ketika ia mencoba mencuci alat itu di sumur, alat itu terlepas dan jatuh. Karena takut dimarahi, ia melompat ke dalam sumur untuk mengambilnya dan pingsan.
Saat sadar, ia berada di padang rumput indah penuh bunga. Ia berjalan dan menemui sebuah oven roti. Roti di dalamnya berteriak, "Tarik aku keluar, kalau tidak aku akan gosong!" Si gadis menarik semua roti dengan sekop besar. Ia melanjutkan perjalanan dan menemui pohon apel yang penuh buah. Pohon itu berteriak, "Kocok aku, apelku sudah matang semua!" Ia mengguncang pohon itu sampai semua apel jatuh dan menumpuknya rapi.
Akhirnya ia tiba di sebuah pondok kecil. Di jendela, seorang perempuan tua bergigi besar menatapnya. Awalnya ia takut, tapi perempuan tua itu berkata, "Jangan takut, anakku. Tinggallah bersamaku. Kalau kau mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik dan merapikan tempat tidurku yang dari bulu, kau akan hidup nyaman." Perempuan tua itu adalah Frau Holle.
Si gadis bekerja dengan rajin: memasak, membersihkan, dan yang terpenting, mengibaskan kasur bulu Frau Holle sampai bulu-bulunya beterbangan seperti salju dan karena menurut kepercayaan, saat salju turun di bumi, Frau Holle sedang mengibaskan kasurnya.
Setelah beberapa lama, meski hidupnya baik, si gadis mulai merasa rindu rumah. Frau Holle menghargai kejujurannya dan mengantarnya ke sebuah gerbang. Begitu ia melangkah melewatinya, hujan emas turun membasahi dirinya, menempel di seluruh tubuhnya. Gerbang itu menutup, dan ia sudah kembali ke dunia manusia, tepat di dekat rumahnya.
Ia masuk ke rumah sambil berlumuran emas. Sang ibu tiri dan saudara tirinya yang malas melihatnya dengan iri. Si malas pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama: ia menusuk jarinya sendiri dengan duri, menjatuhkan alat pintal ke sumur, dan melompat masuk.
Ia tiba di padang rumput yang sama. Tapi ketika roti meminta ditarik keluar, ia menolak karena takut kotor. Ketika pohon apel minta diguncang, ia menolak karena takut apel jatuh menimpa kepalanya. Ia langsung berjalan menuju pondok Frau Holle dan menawarkan diri bekerja.
Di hari pertama, ia bekerja keras, tapi hari kedua mulai bermalas-malasan, dan akhirnya tidak mau mengibaskan kasur sama sekali. Frau Holle pun bosan dan menyuruhnya pergi.
Si gadis malas girang, mengira akan mendapat hujan emas. Ia berdiri di bawah gerbang. Tapi alih-alih emas, sebuah kuali besar berisi aspal (pitch) tumpah ke tubuhnya. "Itulah upah kerjamu," kata Frau Holle. Aspal itu menempel seumur hidup, dan si malas pulang dengan tubuh berlumuran hitam.
Terakhir Diperbaharui:
Berkomentarlah dengan santun dan tetap pada topik. Komentar berisi spam, tautan promosi, atau ujaran kebencian dapat dihapus. Komentar baru mungkin tampil setelah dimoderasi.

Komentar
Posting Komentar